Hadapi Musim Kemarau 2026, IPB University Kembangkan Inovasi Pakan Ternak Berbasis Wafer
- IG/ternak.kambing.barafa
Bogor, WISATA – Musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Juli hingga September 2026 menjadi perhatian serius bagi sektor peternakan Indonesia. Berkurangnya curah hujan diprediksi akan menurunkan ketersediaan hijauan pakan di berbagai wilayah, sehingga diperlukan langkah antisipasi agar produktivitas ternak tetap terjaga.
Mengacu pada prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi kering yang berlangsung sepanjang musim kemarau berpotensi memengaruhi pasokan pakan alami. Oleh karena itu, berbagai pihak didorong untuk memperkuat sistem penyediaan pakan sebelum dampaknya semakin luas dirasakan peternak.
Guru Besar Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan IPB University sekaligus anggota Tim Ahli Pakan Kementerian Pertanian, Prof. Luki Abdullah, menilai bahwa persiapan menghadapi musim kemarau harus dilakukan sejak awal. Dalam Webinar Pakan Series #7 yang diselenggarakan Kementerian Pertanian pada 22 Juni 2026, ia menekankan pentingnya membangun sistem pakan yang memanfaatkan sumber daya lokal.
Menurutnya, pengembangan kebun hijauan pakan, pemanfaatan lahan marginal, hingga penyimpanan cadangan pakan saat musim hujan merupakan strategi yang perlu diperluas. Selain itu, teknologi pengawetan pakan seperti silase dan hay menjadi solusi efektif untuk menjaga ketersediaan pakan ketika hijauan mulai sulit diperoleh.
Di sisi lain, IPB University juga terus menghadirkan inovasi guna mendukung ketahanan pakan nasional. Salah satu hasil riset yang dikembangkan adalah pakan berbentuk wafer berbahan dasar kangkung kering. Produk yang dipimpin Prof. Yuli Retnani bersama tim peneliti Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan ini memanfaatkan limbah pembenihan kangkung yang diolah menjadi pakan tahan lama, tidak mudah rusak, serta memiliki tingkat kesukaan yang tinggi pada ternak.
Selain wafer kangkung, tim peneliti dan mahasiswa IPB University juga mengembangkan wafer berbahan habbatussauda untuk kambing perah serta Lactowaf bagi sapi perah. Inovasi tersebut dirancang agar pakan lebih praktis disimpan, mudah didistribusikan, sekaligus membantu meningkatkan efisiensi konsumsi pakan dan produktivitas susu.
Kementerian Pertanian menilai keberhasilan menghadapi tantangan musim kemarau tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan peternak menjadi faktor penting dalam membangun sistem ketahanan pakan yang berkelanjutan. Melalui penerapan teknologi dan pemanfaatan bahan baku lokal, sektor peternakan diharapkan tetap mampu menjaga produktivitas meskipun menghadapi dampak perubahan iklim dan musim kemarau yang lebih panjang.:::