Peluang Bisnis Sorgum 2026: Modal Tanam, Potensi Untung Tiga Kali Panen, hingga Strategi Hilirisasi yang Menjanjikan

Sorgum
Sumber :
  • IG/urbantani.id

Jakarta, WISATA – Sorgum kini menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian serius dari pemerintah. Di tengah tantangan perubahan iklim, keterbatasan air, dan semakin luasnya lahan kering, tanaman ini dinilai mampu menjadi solusi cerdas untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus membuka peluang usaha baru bagi petani.

img_title Peluang Global Inovator Indonesia Melalui Program Go Healthy with Taiwan

Kementerian Pertanian melalui berbagai program pengembangan komoditas pangan alternatif tengah menyiapkan uji coba penanaman sorgum dalam skala ribuan hektare menggunakan varietas unggul seperti Biohuma dan IPB Sorice. Kedua varietas tersebut dikembangkan agar memiliki produktivitas tinggi serta adaptif terhadap kondisi lahan marginal yang selama ini kurang produktif.

Salah satu keunggulan utama sorgum adalah kemampuannya bertahan pada kondisi kekeringan. Tanaman ini memiliki sistem perakaran yang kuat sehingga mampu tumbuh baik di lahan kering maupun lahan kritis. Hal ini menjadikan sorgum sebagai alternatif penting di tengah ancaman krisis pangan akibat perubahan iklim.

img_title Peluang Kerja Sama Indonesia–Thailand di Sektor Wellness Tourism, Ini Potensi dan Tantangannya!

Tidak hanya sebagai pengganti beras atau gandum, hampir seluruh bagian tanaman sorgum dapat dimanfaatkan melalui proses hilirisasi. Bijinya dapat diolah menjadi tepung, nasi sorgum, aneka kue, mie, hingga sereal. Tepung sorgum juga banyak diminati karena bebas gluten sehingga cocok bagi masyarakat dengan kebutuhan diet tertentu.

Batang sorgum manis mengandung nira yang dapat diolah menjadi gula cair, gula semut, sirup, bahkan bahan baku bioetanol. Sementara daun dan ampas batangnya dapat dimanfaatkan sebagai hijauan pakan ternak berkualitas tinggi.

img_title Antisipasi El Nino 2026, Kementerian Pertanian Perketat Pengendalian Karhutla dan Terapkan Zero Burning

Salah satu daya tarik budidaya sorgum adalah adanya sistem ratun. Setelah panen pertama, batang yang tersisa dapat dipelihara kembali untuk menghasilkan tunas baru tanpa perlu penanaman ulang. Dalam praktiknya, petani dapat memperoleh hingga tiga kali panen dari satu kali tanam, sehingga biaya produksi menjadi lebih efisien. Menurut hasil kajian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, sistem ratun mampu memangkas biaya olah tanah dan benih secara signifikan.

Dari sisi ekonomi, modal budidaya sorgum per hektare relatif lebih rendah dibanding beberapa komoditas pangan lain. Komponen biaya umumnya meliputi benih, pengolahan lahan, pupuk, tenaga kerja, serta biaya pemeliharaan. Namun, para pelaku usaha mengingatkan bahwa keberhasilan bisnis sorgum tidak hanya ditentukan oleh produktivitas.

Halaman Selanjutnya
img_title