Cuaca Bediding Picu Risiko ISPA Meningkat, Dosen UMM Ungkap Cara Efektif Menjaga Daya Tahan Tubuh
- IG/bmkg.iklimjatim
Malang, WISATA – Fenomena cuaca bediding yang belakangan dirasakan di berbagai daerah ternyata bukan sekadar menghadirkan sensasi dingin yang menusuk. Di balik suhu udara yang menurun, terdapat ancaman kesehatan yang perlu diwaspadai, terutama meningkatnya risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Dosen Program Studi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Titik Agustiyaningsih, S.Kep., Ns., M.Kep., menjelaskan bahwa kondisi udara dingin menciptakan lingkungan yang mendukung virus dan bakteri bertahan lebih lama di luar tubuh manusia. Situasi ini membuat penyebaran penyakit saluran pernapasan menjadi lebih mudah terjadi.
Menurutnya, peningkatan kasus batuk, pilek, radang tenggorokan, hingga sesak napas saat cuaca dingin bukan disebabkan oleh satu faktor saja. Ada kombinasi antara ketahanan patogen yang lebih kuat, menurunnya sistem pertahanan tubuh, serta perubahan perilaku masyarakat selama suhu udara rendah.
"Kasus ISPA dan influenza memang cenderung meningkat ketika musim hujan atau saat suhu udara turun. Virus dan bakteri lebih mudah bertahan hidup pada udara dingin dan kering sehingga proses penularan melalui partikel udara menjadi lebih cepat," ungkapnya seperti dikutip dari Humas UMM pada 8 Juni.
Titik menjelaskan bahwa saluran pernapasan manusia memiliki mekanisme perlindungan yang sangat peka terhadap perubahan suhu. Ketika seseorang menghirup udara dingin secara tiba-tiba, saluran napas dapat menyempit, produksi lendir meningkat, dan kerja silia atau rambut getar yang bertugas membersihkan kotoran menjadi lebih lambat. Akibatnya, kemampuan tubuh untuk menyaring mikroorganisme penyebab penyakit pun menurun.
Selain itu, suhu dingin juga dapat memengaruhi sistem imun. Produksi Extracellular Vesicles (EVs), yakni komponen pertahanan alami di rongga hidung yang membantu menangkap virus, dapat berkurang saat suhu turun drastis. Penyempitan pembuluh darah di area hidung juga membuat distribusi sel-sel kekebalan tubuh menjadi tidak optimal.
Meski demikian, Titik mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menyimpulkan bahwa semua gejala pilek merupakan ISPA. Alergi akibat udara dingin biasanya ditandai dengan bersin berulang, hidung gatal, dan mata berair yang membaik ketika suhu menghangat. Sementara itu, demam lebih sering menjadi tanda adanya infeksi.