Buah Kepel Kyai Radiman Resmi Jadi Varietas Lokal Malang, Warisan Langka Indonesia yang Sarat Sejarah
- IG/ppi_provjatim
Malang, WISATA – Di tengah semakin langkanya tanaman buah lokal Indonesia, Kabupaten Malang menghadirkan kabar menggembirakan melalui pelestarian buah kepel atau burahol (Stelechocarpus burahol). Buah yang dikenal sebagai salah satu tanaman langka bernilai sejarah tinggi ini kini resmi terdaftar sebagai varietas lokal asal Kabupaten Malang dengan nama “Kyai Radiman”. Penetapan tersebut menjadi hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Malang dan Pusat Riset Hortikultura BRIN dalam upaya menjaga kekayaan sumber daya genetik lokal Indonesia.
Buah kepel bukan tanaman biasa. Dalam sejarah Jawa, buah ini memiliki kedudukan istimewa karena erat kaitannya dengan lingkungan keraton. Bahkan, kepel dikenal sebagai “buah para putri keraton” karena dahulu sering dikonsumsi kalangan bangsawan Jawa. Buah ini dipercaya memiliki manfaat sebagai deodoran alami yang membantu mengurangi aroma tubuh dan memberikan aroma harum pada keringat serta urin.
Secara ilmiah, kepel termasuk keluarga Annonaceae dengan nama botani Stelechocarpus burahol. Tanaman ini berasal dari kawasan Asia Tenggara dan saat ini banyak ditemukan di Pulau Jawa. Pohonnya dapat tumbuh hingga lebih dari 20 meter dengan ciri khas buah yang muncul langsung dari batang utama. Buah matang berwarna cokelat dengan rasa manis dan aroma khas yang unik.
Selain nilai sejarahnya, kepel juga menarik perhatian para peneliti karena mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi bermanfaat bagi kesehatan. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kepel memiliki kandungan antioksidan, flavonoid, senyawa antihiperurisemia, hingga zat yang berpotensi dikembangkan sebagai pangan fungsional. Karena itulah konservasi tanaman ini dinilai sangat penting untuk masa depan penelitian dan pemanfaatan sumber daya hayati Indonesia.
Sayangnya, keberadaan kepel semakin jarang ditemukan. Lambatnya pertumbuhan tanaman, minimnya budidaya, serta anggapan bahwa buah ini hanya layak ditanam di lingkungan keraton membuat populasinya terus berkurang. Beberapa penelitian bahkan menyebutkan bahwa kepel memerlukan upaya konservasi serius agar tidak terancam punah.
Kehadiran varietas lokal “Kyai Radiman” menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan tanaman langka tersebut. Upaya ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menyimpan kekayaan plasma nutfah yang luar biasa dan layak dilestarikan. Melalui dukungan riset, pendataan varietas, serta pengembangan budidaya, buah kepel tidak hanya menjadi simbol warisan budaya, tetapi juga berpotensi menjadi komoditas bernilai ekonomi dan kesehatan di masa depan.