Menguak Misteri Anestesi Kuno: Penemuan Zat Bius pada Alat Bedah Dinasti Ming

Monkshood (Aconitum napellus)
Sumber :
  • the spruce

Malang, WISATA – Pelajari bagaimana teknologi pencitraan SRS berhasil mengungkap bukti fisik pertama penggunaan tanaman beracun sebagai zat anestesi pada alat bedah era Dinasti Ming

img_title Misteri Otak Manusia saat Mengalami Bius Total, Ternyata Tetap Bisa Mendengar dan Memprediksi Kata

Dunia medis modern saat ini begitu bergantung pada prosedur pembiusan atau anestesi demi memastikan pasien tidak merasakan sakit yang tak tertahankan selama tindakan operasi. Namun, pernahkah Anda membayangkan bagaimana para tabib dan ahli bedah pada masa lampau melakukan prosedur bedah tanpa teknologi obat bius modern? Sebuah penelitian mikroskopis terbaru terhadap residu yang menempel pada alat-alat bedah kuno berhasil menyingkap tabir sejarah tersebut. Penemuan ini memberikan bukti kimia langsung pertama mengenai penggunaan zat anestesi kuno pada instrumen bedah dari era Dinasti Ming di China Timur. Temuan luar biasa ini mengindikasikan bahwa para dokter silsilah Tiongkok pada abad ke-14 ternyata telah mengembangkan metode yang sangat hati-hati dan sistematis dalam memanfaatkan senyawa tanaman beracun untuk mengurangi rasa sakit selama tindakan medis berlangsung.

Jejak Kimia Tersembunyi di Balik Makam Dokter Xia Quan

img_title Mengenal Tread-Softly, Tanaman Beracun Cantik dengan Sengatan Menyakitkan

Kisah detektif sains ini bermula ketika para peneliti memeriksa sepasang gunting besi dan pinset yang ditemukan dari makam seorang dokter ternama bernama Xia Quan di wilayah Jiangyin, Provinsi Jiangsu. Makam bersejarah ini diidentifikasi berasal dari kurun waktu tahun 1348 hingga 1411 Masehi, yang menandai fase awal kejayaan Dinasti Ming. Melalui analisis laboratorium yang sangat presisi, tim ilmuwan berhasil mendeteksi adanya sisa-sisa aconitine. Senyawa ini merupakan sejenis alkaloid sangat beracun yang diproduksi oleh tanaman dari genus Aconitum, yang secara tradisional di barat dikenal dengan nama monkshood atau wolfsbane.

Selama ini, para arkeolog memang kerap mempelajari residu dari obat-obatan kuno, kosmetik, hingga zat psikoaktif masa lalu. Kendati demikian, residu medis dari peradaban China kuno sangat jarang ditemukan dalam bentuk atau jumlah yang cukup besar untuk bisa diuji dengan metode laboratorium standar. Guna mengatasi hambatan besar tersebut, tim peneliti memanfaatkan teknologi mutakhir bernama stimulated Raman scattering microscopy atau yang disingkat sebagai mikroskopi SRS. Ini merupakan sebuah metode pencitraan non-destruktif yang mampu mengidentifikasi jejak kimia mikroskopis tanpa merusak fisik artefak berharga sama sekali.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Waspadai Penyalahgunaan Etomidate dalam Vape: Keterlibatan Jonathan Frizzy dan Ancaman Kesehatan!