Misteri Temnothorax Kinomurai: Ratu Semut Tanpa Jantan dan Pekerja
- zoology.ubc.ca
Malang, WISATA – Temukan fakta unik Temnothorax kinomurai di Jepang, spesies ratu semut yang bertahan hidup tanpa pejantan maupun pekerja melalui cara kloning dan parasitisme.
Dunia serangga selalu punya cara unik untuk membuat kita terbelalak, dan kali ini kejutan datang dari daratan Jepang. Bayangkan sebuah koloni semut yang biasanya sangat terstruktur dengan pembagian tugas ketat antara pekerja, prajurit, dan pejantan, namun tiba-tiba semua aturan itu dipatahkan. Ilmuwan baru-baru ini menemukan sebuah fenomena langka pada spesies ratu semut yang hidup dengan cara yang sangat tidak biasa. Spesies ini tidak memiliki anggota koloni laki-laki maupun buruh pekerja; isinya benar-benar hanya para ratu.
Spesies ratu semut langka ini dikenal dengan nama ilmiah Temnothorax kinomurai. Penemuan ini menjadi perbincangan hangat di kalangan biolog karena ia memadukan dua strategi bertahan hidup yang sangat ekstrem: kloning diri sendiri dan membajak rumah tangga spesies lain. Menurut Jürgen Heinze, seorang biolog dari University of Regensburg di Jerman, ini adalah spesies pertama yang diketahui seluruh populasinya hanya terdiri dari ratu. Strategi ratu semut langka unik ini memungkinkan mereka untuk mendominasi sarang tanpa perlu repot membangun infrastruktur sendiri, melainkan dengan menjadi parasit yang cerdik.
Strategi Kudeta Berdarah di Dunia Semut
Kehidupan Temnothorax kinomurai dimulai dengan sebuah misi infiltrasi yang berisiko tinggi. Ratu muda spesies ini tidak akan mencari pasangan untuk kawin—karena memang tidak ada pejantan—melainkan mencari sarang milik spesies kerabat dekatnya, yaitu Temnothorax makora. Begitu menemukan target, sang ratu penyusup akan melakukan apa yang oleh para peneliti disebut sebagai kudeta. Ia masuk ke dalam sarang lawan, menyengat ratu asli hingga tewas, dan melumpuhkan para pekerja paling agresif yang mencoba menghentikannya.
Jika aksi nekat ini berhasil, para pekerja dari spesies inang yang tersisa akan mengalami semacam "cuci otak" biologis. Mereka akan merawat sang ratu asing dan membesarkan larva-larvanya seolah-olah itu adalah saudara mereka sendiri. Keiko Hamaguchi dari Kansai Research Center di Kyoto menjelaskan bahwa T. kinomurai sangat bergantung pada pekerja inang untuk mencari makan (foraging) dan perawatan larva (brood care). Tanpa bantuan para "budak" dari spesies lain ini, sang ratu parasit tidak akan bisa menghasilkan keturunan.