Menemukan Jejak Pikun Lebih Awal: Peran Kecerdasan Buatan dalam Menganalisis Catatan Dokter

Orang dengan Demensia
Sumber :
  • pixabay

Malang, WISATA – Sering kali, tanda-tanda awal penurunan kognitif atau demensia tidak muncul melalui diagnosis formal yang mendadak, melainkan tersembunyi dalam catatan kecil yang ditulis oleh penyedia layanan kesehatan. Keluhan samar tentang sering lupa, kebingungan saat janji temu atau kekhawatiran yang disampaikan oleh anggota keluarga biasanya terkubur di antara tumpukan data medis. Namun, sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal npj Digital Medicine menunjukkan bahwa Kecerdasan Buatan (AI) mampu mendeteksi sinyal-sinyal halus ini lebih cepat daripada prosedur konvensional.

img_title Aplikasi PettiChat Hadirkan Penerjemah Bahasa Hewan Berbasis Kecerdasan Buatan Terkini

Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Lidia Moura dan Hossein Estiri dari Massachusetts General Hospital ini mengembangkan sistem AI yang dirancang bukan untuk menggantikan peran dokter, melainkan sebagai alat skrining bantuan. Tujuannya adalah untuk memindai ribuan catatan klinis—termasuk ringkasan keluar rumah sakit dan catatan kemajuan pasien—guna menemukan pola kecemasan terkait memori dan perilaku yang mungkin terlewatkan dalam kunjungan rutin yang singkat.

Kolaborasi Tim Agen AI

img_title Transformasi Pertanian Berbasis AI di Danau Toba, Sinergi Teknologi dan Kelestarian Lingkungan

Berbeda dengan sistem AI tunggal pada umumnya, para peneliti menggunakan pendekatan 'agentic'. Sistem ini terdiri dari lima program AI berbeda yang saling berkoordinasi, di mana masing-masing memiliki peran spesifik dan bertugas meninjau pekerjaan satu sama lain secara berulang. Dibangun di atas model Llama 3.1 milik Meta, sistem ini dilatih menggunakan data catatan medis selama tiga tahun.

Pada tahap awal pengujian, AI ini menunjukkan tingkat akurasi yang luar biasa, mencapai kesepakatan sebesar 91% dengan label yang diberikan oleh dokter manusia. Namun, tantangan muncul saat sistem diuji pada data dunia nyata yang lebih kompleks. Awalnya, sensitivitas sistem turun menjadi 62%, yang berarti AI tersebut melewatkan hampir empat dari sepuluh kasus yang sebelumnya ditandai oleh dokter sebagai tanda penurunan kognitif.

img_title AI Bukan Sekadar Chatbot: Adhiguna Mahendra Soroti Masa Depan Cyber-Physical AI

Ketika Mesin 'Mengoreksi' Manusia

Hasil yang tampak seperti kegagalan tersebut justru mengungkap temuan yang mengejutkan. Ketika para ahli meninjau kembali rekam medis di mana terjadi perbedaan pendapat antara AI dan dokter asli, ternyata dalam 44% kasus, penilaian AI dianggap lebih akurat. AI cenderung menerapkan definisi klinis secara lebih konservatif dan teliti. Mesin ini mampu membedakan mana yang merupakan penurunan kognitif nyata berdasarkan bukti naratif dalam catatan, dibandingkan dengan dokter yang terkadang memberikan label diagnosis tanpa deskripsi gejala yang jelas dalam teks.

Halaman Selanjutnya
img_title