Hari Kusta Sedunia 26 Januari: Hapus Stigma, Kusta Bisa Disembuhkan
- IG/promkes.bali
Jakarta, WISATA – Setiap tanggal 26 Januari, dunia memperingati Hari Kusta Sedunia sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyakit kusta serta menghapus stigma yang masih melekat hingga kini. Di Indonesia, peringatan ini menjadi pengingat penting bahwa kusta bukanlah penyakit kutukan, melainkan penyakit infeksi yang dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam penanganan kusta adalah stigma yang masih kuat di tengah masyarakat. Stigma tersebut muncul akibat kurangnya informasi yang benar mengenai kusta, sehingga penderita kerap mengalami diskriminasi dan pengucilan sosial.
“Kusta bukan kutukan. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri, penularannya sangat sulit dan membutuhkan waktu lama. Yang terpenting, kusta sudah ada obatnya dan bisa sembuh,” tegas Menkes Budi dalam talkshow bertajuk Ending Leprosy Without Stigma yang digelar di Kementerian Kesehatan RI.
Ia menjelaskan bahwa kusta memiliki tingkat fatalitas yang hampir nol dan tidak mudah menular. Namun, stigma membuat banyak penderita takut atau malu untuk melapor dan berobat. Akibatnya, pengobatan sering terlambat, yang justru dapat memperparah kondisi dan meningkatkan risiko kecacatan.
Dalam acara tersebut, WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa, turut menyampaikan apresiasinya terhadap komitmen Indonesia dalam upaya eliminasi kusta. Ia menyatakan optimisme bahwa dengan dukungan kebijakan yang kuat dan edukasi masyarakat yang berkelanjutan, Indonesia mampu mencapai target penghapusan kusta.
Menkes Budi juga menambahkan bahwa meningkatnya jumlah kasus yang terdeteksi dalam beberapa waktu terakhir justru merupakan sinyal positif. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat yang berani memeriksakan diri dan mendapatkan pengobatan.
Kisah penyintas kusta, Samsul, menjadi bukti nyata dampak buruk stigma. Ia menceritakan bagaimana dirinya sempat dijauhi karena minimnya pemahaman orang-orang di sekitarnya. Namun, setelah memberikan penjelasan dan menunjukkan bahwa dirinya tetap sehat dan produktif, lingkungan mulai menerima kembali.
Pengalaman tersebut menegaskan pentingnya penyebaran informasi yang sederhana, akurat, dan mudah dipahami, khususnya kepada guru, pelajar, dan masyarakat umum. Melalui peringatan Hari Kusta Sedunia, diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa kusta dapat disembuhkan dan bahwa menghentikan stigma adalah kunci untuk mempercepat eliminasi kusta di Indonesia.