Hidroponik Apung ITS Ubah Pekarangan Magetan Jadi Lahan Sayur Produktif
- its.ac.id
Surabaya, WISATA – Upaya pemanfaatan lahan sempit di Desa Durenan, Kecamatan Sidorejo, Magetan, berhasil dibuktikan oleh tim peneliti Departemen Kimia FSAD ITS melalui program pengabdian kepada masyarakat. Pekarangan warga yang awalnya tidak produktif telah diubah menjadi area budidaya sawi dan kale menggunakan metode Hidroponik Apung (Floating Hydroponic System).
Program ini dipimpin oleh Prof Suprapto PhD bersama tim peneliti lain dari Departemen Kimia ITS. Melalui kegiatan abmas ini, teknologi pertanian modern berbasis hidroponik diperkenalkan kepada warga agar pekarangan rumah dapat dimanfaatkan secara optimal.
Dalam penjelasannya, Suprapto menyampaikan bahwa banyak lahan desa tidak dimanfaatkan karena kondisi tanah yang kurang subur. Oleh sebab itu, metode hidroponik apung digagas sebagai solusi. Dengan sistem ini, kegiatan bertani dapat dilakukan tanpa ketergantungan pada kualitas tanah.
Metode hidroponik apung dinilai efisien karena biaya pembuatan instalasinya rendah, mudah diterapkan, serta sangat hemat air. Bibit tanaman ditempatkan pada papan styrofoam yang mengapung di atas larutan nutrisi, sehingga akar dapat menyerap nutrisi secara langsung.
Instalasi berupa greenhouse sederhana dan bak hidroponik berukuran 1×2 meter telah dipasang di pekarangan warga. Hasilnya, sawi dapat dipanen dalam 25–35 hari dengan bobot 150–200 gram, sedangkan kale dipanen dalam 35–40 hari dengan bobot 200–250 gram.
Produktivitas tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan metode tanam konvensional. Hal ini dianggap sebagai peluang baru bagi masyarakat desa untuk mengembangkan pertanian berkelanjutan.
Selain membangun instalasi, pelatihan intensif juga diberikan kepada warga. Materi mencakup teknik pembibitan, penyusunan instalasi, pengelolaan nutrisi, hingga panen dan pascapanen. Antusiasme warga tercatat sangat tinggi karena sistem ini dapat diterapkan dengan modal terjangkau. Harapannya, masyarakat dapat mandiri dan terus mengembangkan teknologi ini.
Inovasi hidroponik apung dinilai mampu membuka peluang ekonomi baru karena sawi dan kale hidroponik memiliki nilai jual lebih tinggi. Penerapan sistem ini juga mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan seperti ketahanan pangan (SDG 2), pertumbuhan ekonomi (SDG 8), dan produksi berkelanjutan (SDG 12). Ke depannya, penerapan teknologi ini direncanakan diperluas ke desa lain dan dikembangkan menuju sistem aquaponik.