Seneca Mengajarkan Cara Menghadapi Kekuasaan, Ketamakan, dan Kehancuran Diri
- Cuplikan layar
Jakarta, WISATA – Kekuasaan, ketamakan, dan kehancuran diri adalah tiga tema besar yang terus berulang dalam sejarah manusia. Di era modern, kita menyaksikan skandal politik, keserakahan korporasi, dan tragedi pribadi yang menghancurkan reputasi tokoh besar. Menariknya, hampir dua ribu tahun lalu, filsuf Romawi kuno Lucius Annaeus Seneca telah menulis panduan mendalam untuk menghadapi ketiga hal ini—panduan yang tetap relevan untuk generasi milenial hingga Gen Z.
Sebagai seorang tokoh Stoik yang juga terlibat langsung dalam lingkaran kekuasaan Romawi, Seneca berbicara bukan hanya dari teori, tetapi dari pengalaman pribadi. Ia pernah menjadi penasihat Kaisar Nero, hidup di puncak kemewahan, namun juga mengalami pengasingan, fitnah, dan akhir hidup yang tragis.
Kekuasaan: Menggunakannya dengan Bijak atau Diperbudak Olehnya
Seneca memahami bahwa kekuasaan bisa menjadi alat kebaikan atau sumber kebinasaan. Dalam Letters to Lucilius, ia mengingatkan: “Lebih mudah menguasai bangsa daripada menguasai diri sendiri.”
Pengalaman pribadinya sebagai penasihat Kaisar Nero menjadi bukti bahwa kekuasaan sering kali menciptakan dilema moral yang rumit. Menurut James Romm dalam Dying Every Day: Seneca at the Court of Nero (Vintage, 2014), Seneca kerap terjebak dalam kontradiksi antara mempertahankan posisinya di istana dan mempertahankan prinsip-prinsip Stoik yang ia anut.
Bagi dunia modern, pesan ini relevan bagi para pemimpin, manajer, atau siapa saja yang memiliki pengaruh: kekuasaan tidak boleh mengorbankan integritas. Tanpa kendali diri, kekuasaan justru akan menjadi penjara yang merusak.
Ketamakan: Penyakit yang Menggerogoti Jiwa
Seneca menilai ketamakan sebagai salah satu sumber penderitaan manusia yang paling dalam. Dalam On the Happy Life (De Vita Beata), ia menulis: “Bukan orang miskin yang kekurangan banyak, tetapi orang yang menginginkan lebih.”
Ia menentang pandangan bahwa kebahagiaan berasal dari akumulasi kekayaan. Menurut Seneca, ketamakan membuat seseorang selalu merasa kurang, berapa pun yang dimilikinya. Pandangan ini mendapat dukungan dari studi psikologi modern yang menunjukkan bahwa pencarian kebahagiaan melalui materi cenderung menurunkan tingkat kepuasan hidup dalam jangka panjang (Journal of Positive Psychology, 2018).