Neanderthal Bukan ‘Hiperkarnivora’ namun Memangsa Belatung

Pesta Daging Neanderthal
Sumber :
  • archaeologyworlds.com

Malang, WISATA – Bagi Neanderthal yang lapar, menu makanan mereka lebih dari sekadar mamalia liar, merpati panggang, makanan laut dan tumbuhan. Jejak kimiawi pada tulang-tulang purba menunjukkan hidangan pendamping yang bergizi dan tak terelakkan: segenggam belatung segar.

img_title RESEP: Udang Air Fryer 12 Menit, Menu Sehat Praktis untuk Makan Malam

Teori dari para peneliti AS ini meruntuhkan anggapan sebelumnya bahwa Neanderthal adalah 'hiperkarnivora' yang berada di puncak rantai makanan bersama singa gua, harimau bertaring pedang dan hewan-hewan lain yang mengonsumsi daging dalam jumlah yang sangat besar.

Alih-alih berpesta dengan steak mammoth yang tak terhitung jumlahnya, mereka menyimpan hasil buruan mereka selama berbulan-bulan, menurut para ilmuwan, lebih menyukai bagian yang berlemak daripada daging tanpa lemak dan belatung yang mengotori bangkai yang membusuk.

img_title Rahasia Tersembunyi di Balik Kepunahan Neanderthal yang Mengejutkan Dunia

"Neanderthal bukanlah hiperkarnivora, pola makan mereka berbeda," kata John Speth, profesor emeritus antropologi di Universitas Michigan seperti dilansir dari The Guardian. "Kemungkinan besar belatung adalah makanan utama mereka."

Neanderthal dianggap berada di puncak rantai makanan karena tingginya kadar nitrogen berat di tulang mereka. Nitrogen terakumulasi dalam organisme hidup ketika mereka memetabolisme protein dalam makanan mereka. Bentuk unsur yang lebih ringan, nitrogen-14, lebih mudah diekskresikan daripada bentuk yang lebih berat, nitrogen-15. Akibatnya, nitrogen berat terakumulasi dalam organisme di setiap tahapan rantai makanan, dari tumbuhan, herbivora, hingga karnivora.

img_title Jejak Kuliner Ekstrem di Indonesia: Asal Usul Budaya, Tradisi, dan Pandangan Antropolog

Meskipun kadar nitrogen tinggi dalam tulang Neanderthal menempatkan mereka di puncak rantai makanan, mereka tidak akan mampu mencerna jumlah daging yang dibutuhkan untuk mencapai kadar tersebut, kata para peneliti.

"Manusia hanya dapat mentoleransi hingga sekitar 4 gram protein per kilogram berat badan, sementara hewan seperti singa dapat mentoleransi dua hingga empat kali lipat protein tersebut dengan aman," kata Speth.

Karena banyak kelompok Pribumi di seluruh dunia secara rutin mengonsumsi belatung dalam daging yang membusuk, para peneliti memutuskan untuk mengeksplorasi peran potensial mereka. Eksperimen ini bukan untuk mereka yang mudah merasa mual.

Di Universitas Tennessee para peneliti mempelajari mayat manusia sumbangan yang dibiarkan membusuk. Penelitian ini membantu ilmuwan forensik mengasah teknik mereka, misalnya, untuk memastikan sudah berapa lama orang tersebut meninggal.

Halaman Selanjutnya
img_title