5 Pemikiran Machiavelli yang Dipakai Pemimpin Dunia hingga Hari Ini
- Image Creator/Handoko
Pemikiran Niccolò Machiavelli dari era Renaisans masih jadi acuan pemimpin dunia modern. Dari kekuasaan, strategi hingga moral, ini buktinya!
Malang, WISATA — Nama Niccolò Machiavelli mungkin sudah berusia lebih dari lima abad, namun gagasan-gagasan politiknya masih hidup dan menjadi pedoman di ruang-ruang kekuasaan dunia. Lahir di Florence pada 1469 dan meninggal pada 1527, Machiavelli dikenal sebagai seorang diplomat, penulis, dan filsuf politik yang dikenal karena karya terkenalnya, Il Principe (The Prince). Buku ini bukan sekadar teks klasik; ia merupakan "kitab suci" kekuasaan yang dibaca secara diam-diam oleh banyak pemimpin dunia, dari presiden negara adidaya hingga manajer korporasi multinasional.
Machiavelli dikenal sebagai pelopor realpolitik, yakni pendekatan politik yang pragmatis dan tanpa ilusi moral. Ia menyarankan para penguasa untuk bertindak sesuai dengan kebutuhan situasi, bahkan jika harus menanggalkan moral demi stabilitas dan keberlangsungan kekuasaan.
Berikut adalah lima pemikiran Machiavelli yang hingga kini diam-diam dipraktikkan oleh banyak tokoh besar dunia:
1. Lebih Baik Ditakuti daripada Dicintai
Dalam The Prince, Machiavelli menulis: “Jika seorang pemimpin tidak bisa menjadi keduanya, maka lebih aman baginya untuk ditakuti daripada dicintai.” Gagasan ini menunjukkan bahwa kekuasaan membutuhkan rasa hormat dan kepatuhan yang kadang hanya bisa diperoleh melalui rasa takut, bukan cinta.
Pemikiran ini banyak diterapkan oleh pemimpin otoriter, tetapi juga digunakan dalam dunia bisnis untuk membangun struktur hierarki yang kuat. Dikutip dari buku The Prince terbitan Penguin Classics (2003), strategi ini telah diadopsi oleh banyak pemimpin dunia sejak zaman Napoleon hingga masa kini.
2. Tujuan Membenarkan Segala Cara (The Ends Justify the Means)
Mungkin inilah kutipan paling kontroversial yang sering dikaitkan dengan Machiavelli. Ia berpendapat bahwa demi tujuan besar—seperti menjaga stabilitas negara atau mempertahankan kekuasaan—seorang pemimpin boleh menggunakan segala cara, termasuk tipu daya, manipulasi, dan bahkan kekerasan.
Meskipun banyak pakar menyebut bahwa kutipan ini sering disalahartikan, prinsipnya tetap dipegang teguh oleh politisi dan tokoh militer. Dikutip dari jurnal History of Political Thought (Volume 32, 2011), prinsip ini disebut sebagai dasar teori utilitarianisme strategis dalam politik kontemporer.