Chrysippus Tidak Percaya Takdir Buta, Ini Alasannya
- Cuplikan Layar
Jakarta, WIATA – Dalam khazanah filsafat Stoikisme, Chrysippus dikenal sebagai sosok penting yang menyusun sistem pemikiran Stoik menjadi lebih terstruktur dan logis. Ia banyak menulis tentang logika, etika, dan hubungan manusia dengan alam semesta. Namun, satu gagasan penting yang sering disalahpahami adalah pandangannya tentang takdir. Berbeda dengan banyak pemikiran pasif atau fatalistik, Chrysippus tidak percaya pada takdir buta. Lalu, apa maksudnya?
Takdir Bukan Hal Acak Menurut Stoikisme
Dalam pemikiran umum, takdir sering dipahami sebagai kekuatan misterius dan tidak masuk akal yang menentukan hidup manusia. Orang yang gagal mungkin berkata, “Ini sudah takdir saya,” atau yang sukses merasa “ini sudah ditentukan.” Namun Chrysippus menolak pandangan itu.
Bagi Chrysippus, takdir bukan kekuatan acak atau buta, melainkan hasil dari hukum alam yang rasional, yang dikenal dalam Stoikisme sebagai logos. Logos adalah prinsip rasional yang mengatur alam semesta. Semua hal yang terjadi, baik dan buruk, bukan kebetulan, tapi bagian dari rantai sebab-akibat yang masuk akal dan bisa dijelaskan secara logis.
Takdir dan Akal: Dua Hal yang Tak Bisa Dipisahkan
Chrysippus mengajarkan bahwa manusia hidup dalam tatanan alam yang rasional dan logis. Dalam sistem ini, takdir adalah konsekuensi dari sebab dan akibat, bukan keputusan sewenang-wenang dari kekuatan adikodrati. Ia menulis:
“Hidup adalah rangkaian sebab-akibat; pahamilah bahwa apa yang terjadi, terjadi sesuai dengan hukum alam.”