Massimo Pigliucci: Bahagia Itu Berasal dari Pikiran, Bukan Dunia Luar
- Image Creator Grok/Handoko
Malang, WISATA – Di tengah gempuran pencapaian dunia modern yang serba cepat, kebahagiaan kerap dipersepsikan sebagai sesuatu yang harus dicari di luar diri: harta, jabatan, ketenaran, atau validasi dari media sosial. Namun Massimo Pigliucci, filsuf kontemporer sekaligus tokoh kebangkitan filsafat Stoik, menyampaikan pesan berbeda—bahwa kebahagiaan sejati tidak pernah datang dari dunia luar, melainkan dari cara kita berpikir dan merespons hidup.
Sebagai profesor filsafat di City College of New York dan penulis buku laris How to Be a Stoic (2017), Pigliucci mengajak masyarakat modern, termasuk generasi milenial, untuk kembali pada prinsip-prinsip dasar Stoisisme yang telah terbukti tahan terhadap ujian zaman. Menurutnya, jika seseorang mengandalkan kebahagiaan dari hal-hal eksternal, maka ia akan menjadi budak dari perubahan dan ketidakpastian.
“Kita tidak bisa mengendalikan dunia luar, tetapi kita bisa mengendalikan pikiran dan sikap kita terhadapnya,” kata Pigliucci dalam salah satu kuliahnya. Ungkapan ini sejalan dengan prinsip dikotomi kendali dalam Stoisisme—bahwa kehidupan yang baik berakar pada pengendalian diri, bukan penguasaan terhadap dunia.
Pigliucci percaya bahwa banyak penderitaan mental manusia bukan berasal dari kenyataan objektif, melainkan dari cara berpikir yang keliru. Ketika seseorang menetapkan standar bahagia berdasarkan pujian, prestasi, atau pencapaian yang bersifat sementara, maka ia sedang membangun kebahagiaan di atas tanah yang rapuh. Setiap kekecewaan, kritik, atau kegagalan akan mudah menggoyahkan kestabilan emosinya.
Di sisi lain, mereka yang memusatkan hidupnya pada nilai-nilai kebajikan seperti kejujuran, kesederhanaan, dan keadilan akan menemukan rasa puas yang lebih stabil dan mendalam. Pigliucci menegaskan, “Kebajikan adalah satu-satunya kebaikan sejati yang tidak bisa direnggut siapa pun darimu.” Artinya, ketika kita hidup sesuai dengan nilai moral yang benar, kita akan merasa bahagia bahkan di tengah keterbatasan.
Dalam kerangka Stoik, bahagia bukan berarti tertawa setiap hari atau tidak pernah merasa sedih. Bahagia adalah hidup dengan kesadaran penuh, menerima kenyataan apa adanya, dan menjalaninya dengan cara yang bijak. Dengan kata lain, bahagia bukanlah emosi sesaat, melainkan kondisi batin yang diperoleh melalui latihan berpikir.