15 Kutipan Epictetus yang Akan Mengubah Cara Pandang Hidupmu
- Cuplikan layar
Jakarta, WISATA - Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, banyak orang mulai mencari jawaban dari kebijaksanaan kuno. Salah satu nama yang kembali banyak disebut adalah Epictetus, seorang filsuf Stoik dari abad pertama Masehi yang ajarannya kini semakin relevan.
Epictetus bukan seorang raja atau bangsawan. Ia lahir sebagai budak di Kekaisaran Romawi. Namun, dari pengalaman hidup yang keras itulah ia menemukan filosofi yang mendalam tentang makna hidup, ketenangan batin, dan kebebasan sejati.
Berikut adalah 15 kutipan Epictetus yang bisa membuka cakrawala berpikir dan membawa kita merenungi kembali arah hidup kita di era digital ini:
1. “It’s not what happens to you, but how you react to it that matters.”
Kita tidak bisa mengendalikan segalanya dalam hidup, tetapi kita bisa mengendalikan reaksi kita. Kebahagiaan sejati bukanlah bebas dari masalah, tetapi mampu bersikap bijak terhadap masalah itu sendiri.
2. “He who laughs at himself never runs out of things to laugh at.”
Rendah hati dan mampu menertawakan diri sendiri adalah tanda kebijaksanaan. Dengan tidak terlalu serius terhadap diri sendiri, kita mengurangi beban emosi yang tidak perlu.
3. “First say to yourself what you would be; and then do what you have to do.”
Menentukan tujuan hidup adalah langkah awal. Setelah itu, dedikasikan tindakan nyata menuju tujuan itu. Tanpa tindakan, mimpi hanya akan menjadi angan-angan.
4. “Freedom is the only worthy goal in life. It is won by disregarding things that lie beyond our control.”
Kebebasan sejati datang ketika kita melepaskan keterikatan pada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan—seperti pendapat orang lain, harta, atau pujian.
5. “If you want to improve, be content to be thought foolish and stupid.”
Perubahan seringkali tidak nyaman. Dalam proses belajar, kita mungkin terlihat ‘bodoh’ di mata orang lain. Tapi itu adalah harga yang harus dibayar untuk menjadi lebih baik.
6. “Wealth consists not in having great possessions, but in having few wants.”