Epictetus: “Aku Menertawakan Mereka yang Mengira Bisa Menyakiti Diriku”
- Image Creator Grok/Handoko
“I laugh at those who think they can damage me. They do not know who I am, they do not know what I think, they cannot even touch the things which are really mine and with which I live.”
—Epictetus
Jakarta, WISATA - Di tengah dunia yang penuh pertentangan, penghinaan, dan ujian hidup, filsuf Stoik Epictetus menyampaikan satu pesan yang tak hanya bijak, tetapi juga sangat membebaskan: bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada kekuasaan fisik atau pengaruh sosial, tetapi dalam kendali atas pikiran dan jiwa kita sendiri.
Dengan menyatakan bahwa ia menertawakan mereka yang mengira bisa merusak dirinya, Epictetus mengajak kita untuk menyadari betapa kuat dan tak tergoyahkannya manusia yang mengenal dirinya sendiri. Mereka yang benar-benar memahami apa yang bernilai dalam hidup tidak akan mudah terguncang oleh hinaan, cacian, atau penderitaan yang bersifat eksternal.
Siapa Aku Sebenarnya?
Pesan ini berakar pada prinsip utama filsafat Stoik: diri sejati bukanlah apa yang kita miliki, jabatan yang kita emban, atau status yang kita tampilkan di mata publik. Diri sejati adalah pikiran kita, nilai-nilai kita, dan sikap kita terhadap hidup. Tidak ada satu pun dari itu yang bisa disentuh atau dirusak oleh orang lain, kecuali kita sendiri yang mengizinkannya.
Orang boleh saja merampas harta kita, menjatuhkan nama baik kita, atau mencemooh kita. Tapi mereka tidak akan pernah bisa merusak keberanian kita, kebijaksanaan kita, dan ketenangan batin kita—jika kita tidak membiarkan mereka melakukannya.
Menertawakan Mereka yang Salah Mengira
Epictetus tidak menyarankan kita menjadi sinis atau arogan. Tertawanya bukan cemoohan sombong, tetapi ekspresi pemahaman mendalam bahwa banyak orang hidup dalam ilusi: mereka mengira harga diri seseorang bisa ditentukan oleh opini publik, kekayaan, atau kekuasaan. Padahal, semua itu bersifat fana dan rapuh.
Dengan bersikap seperti ini, kita juga sedang dilatih untuk tidak menjadi budak penilaian orang lain. Kita bisa tetap tegar bahkan saat dihina, karena kita tahu bahwa penghinaan itu tidak menyentuh inti sejati dari siapa kita sebenarnya.