Zeno dari Citium: Keadilan Tidak Mengenal Perbudakan
- Cuplikan layar
“No matter whether you claim a slave by purchase or capture, the title is bad. They who claim to own their fellow-men, look down into the pit and forget the justice that should rule the world.”
— Zeno dari Citium
Jakarta, WISATA – Dalam sejarah panjang peradaban manusia, perbudakan menjadi salah satu noda kelam yang mencerminkan hilangnya nurani dan keadilan. Namun jauh sebelum prinsip-prinsip hak asasi manusia disuarakan secara global, seorang filsuf Yunani kuno bernama Zeno dari Citium telah menyuarakan ketidakadilan sistem perbudakan dan menyerukan penghormatan terhadap sesama manusia.
Dalam salah satu kutipannya yang penuh makna, Zeno menegaskan bahwa tidak peduli apakah seseorang mengklaim memiliki budak melalui pembelian atau penaklukan, klaim tersebut tetap tidak sah secara moral. Ia menegaskan bahwa mereka yang merasa berhak memiliki sesama manusia telah melupakan nilai tertinggi dalam kehidupan sosial: keadilan.
Zeno dan Visi Kemanusiaan yang Melampaui Zaman
Zeno dari Citium (sekitar 334–262 SM), pendiri aliran filsafat Stoisisme, hidup di era ketika perbudakan merupakan bagian normal dari tatanan masyarakat. Namun berbeda dari mayoritas pemikir zamannya, Zeno dengan lantang menentang ide bahwa manusia bisa dimiliki oleh manusia lain. Pandangannya ini revolusioner dan menjadi bukti bahwa Stoisisme bukan hanya ajaran tentang pengendalian diri, tetapi juga tentang martabat manusia dan tatanan dunia yang adil.
Zeno memandang manusia sebagai makhluk rasional yang setara di hadapan logos—hukum alam semesta yang penuh keteraturan dan keadilan. Maka ketika seseorang mencoba menguasai orang lain, ia telah bertindak bertentangan dengan kodrat alam dan merusak harmoni kosmik.
Perbudakan: Pelanggaran terhadap Keadilan Universal
Zeno melihat perbudakan bukan hanya sebagai pelanggaran terhadap martabat individu, tetapi juga terhadap prinsip dasar keadilan. Baginya, keadilan bukan sekadar aturan hukum buatan manusia, melainkan sesuatu yang lebih mendalam—sebuah nilai universal yang harus menuntun tindakan manusia.
Ketika seseorang memperbudak orang lain, ia tidak hanya mencabut kebebasan fisik korban, tetapi juga menodai dirinya sendiri karena mengingkari kesetaraan yang melekat pada semua manusia. Dalam istilah Stoik, ia menjauh dari hidup yang sejalan dengan alam (living according to nature).
Menembus Zaman: Relevansi Zeno di Dunia Modern
Meskipun bentuk perbudakan konvensional telah dihapuskan di banyak negara, praktik-praktik eksploitasi masih terus berlangsung hingga kini. Perdagangan manusia, kerja paksa, eksploitasi anak, hingga bentuk-bentuk dominasi sosial-ekonomi adalah wajah-wajah baru dari perbudakan zaman modern.
Pesan Zeno sangat relevan untuk masa kini: selama masih ada manusia yang merasa lebih berhak atas hidup orang lain, maka keadilan belum benar-benar ditegakkan. Dalam dunia bisnis, politik, bahkan relasi pribadi, dominasi yang tidak sehat adalah bentuk ketidakadilan yang halus namun berbahaya.
Stoisisme dan Keadilan Sosial
Stoisisme bukan hanya soal ketenangan batin atau pengendalian emosi, melainkan juga tentang kehidupan etis dan partisipasi dalam komunitas dengan cara yang adil dan bermartabat. Dalam ajaran Zeno, kebajikan tertinggi terdiri dari empat nilai: kebijaksanaan, keberanian, keadilan, dan pengendalian diri.
Keadilan, dalam hal ini, bukan hanya soal hukum, tetapi tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain. Apakah kita menghormati kebebasan dan martabat mereka? Apakah kita memperlakukan mereka sebagai sesama manusia atau hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan pribadi?
Menghapus “Perbudakan” dalam Diri
Zeno juga mengajarkan bahwa perbudakan tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga secara mental. Ketika kita dikuasai oleh ambisi, ketamakan, atau kebencian, kita menjadi “budak” bagi emosi dan dorongan kita sendiri. Maka, membebaskan diri dari “perbudakan batin” adalah bagian dari perjuangan menjadi manusia seutuhnya—manusia yang merdeka secara akal dan jiwa.
Dunia yang Lebih Adil Dimulai dari Kesadaran
Zeno mengingatkan kita bahwa dunia yang adil tidak akan terwujud jika manusia terus mengabaikan martabat sesama. Kesetaraan dan kebebasan bukanlah hadiah, tetapi hak yang melekat dalam kodrat manusia. Ketika seseorang merasa berhak menguasai orang lain—baik secara ekonomi, sosial, atau emosional—ia sesungguhnya telah melangkah mundur dari kemanusiaan.
Untuk membangun dunia yang lebih adil, kita perlu memulai dari hal kecil: menghormati orang lain apa adanya, memperlakukan pekerja secara manusiawi, menghargai hak anak dan perempuan, dan tidak mengambil keuntungan dari ketidaktahuan atau kelemahan orang lain.
Penutup: Keadilan Harus Mengatur Dunia
Zeno dari Citium memberikan pelajaran penting bahwa keadilan bukan sekadar cita-cita, tetapi hukum alam yang seharusnya mengatur dunia. Tidak peduli seberapa kuat, kaya, atau berkuasa seseorang, jika ia tidak menegakkan keadilan, maka ia telah menggali jurang yang memisahkannya dari kebajikan.
Dengan kata-katanya yang tajam, Zeno mengajak kita merenung: "Mereka yang mengklaim memiliki sesamanya telah memandang ke dasar jurang dan melupakan keadilan yang seharusnya mengatur dunia." Sebuah seruan abadi untuk hidup dalam kesetaraan, kehormatan, dan kebebasan sejati.