Zeno dari Citium: Keadilan Tidak Mengenal Perbudakan

Zeno dari Citium
Sumber :
  • Cuplikan layar

“No matter whether you claim a slave by purchase or capture, the title is bad. They who claim to own their fellow-men, look down into the pit and forget the justice that should rule the world.”
Zeno dari Citium

img_title Pemberontakan Zanj dan Perbudakan Orang Afrika: Studi Baru Membentuk Kembali Sejarah Pertanian Kuno di Irak

Jakarta, WISATA – Dalam sejarah panjang peradaban manusia, perbudakan menjadi salah satu noda kelam yang mencerminkan hilangnya nurani dan keadilan. Namun jauh sebelum prinsip-prinsip hak asasi manusia disuarakan secara global, seorang filsuf Yunani kuno bernama Zeno dari Citium telah menyuarakan ketidakadilan sistem perbudakan dan menyerukan penghormatan terhadap sesama manusia.

Dalam salah satu kutipannya yang penuh makna, Zeno menegaskan bahwa tidak peduli apakah seseorang mengklaim memiliki budak melalui pembelian atau penaklukan, klaim tersebut tetap tidak sah secara moral. Ia menegaskan bahwa mereka yang merasa berhak memiliki sesama manusia telah melupakan nilai tertinggi dalam kehidupan sosial: keadilan.

img_title The Republic Plato: Kitab Klasik yang Jadi Inspirasi Pemimpin Dunia dalam Demokrasi dan Keadilan

Zeno dan Visi Kemanusiaan yang Melampaui Zaman

Zeno dari Citium (sekitar 334–262 SM), pendiri aliran filsafat Stoisisme, hidup di era ketika perbudakan merupakan bagian normal dari tatanan masyarakat. Namun berbeda dari mayoritas pemikir zamannya, Zeno dengan lantang menentang ide bahwa manusia bisa dimiliki oleh manusia lain. Pandangannya ini revolusioner dan menjadi bukti bahwa Stoisisme bukan hanya ajaran tentang pengendalian diri, tetapi juga tentang martabat manusia dan tatanan dunia yang adil.

img_title Meditations Marcus Aurelius: Rahasia Pemimpin Dunia Menemukan Ketenangan dan Kebijaksanaan

Zeno memandang manusia sebagai makhluk rasional yang setara di hadapan logos—hukum alam semesta yang penuh keteraturan dan keadilan. Maka ketika seseorang mencoba menguasai orang lain, ia telah bertindak bertentangan dengan kodrat alam dan merusak harmoni kosmik.

Perbudakan: Pelanggaran terhadap Keadilan Universal

Zeno melihat perbudakan bukan hanya sebagai pelanggaran terhadap martabat individu, tetapi juga terhadap prinsip dasar keadilan. Baginya, keadilan bukan sekadar aturan hukum buatan manusia, melainkan sesuatu yang lebih mendalam—sebuah nilai universal yang harus menuntun tindakan manusia.

Ketika seseorang memperbudak orang lain, ia tidak hanya mencabut kebebasan fisik korban, tetapi juga menodai dirinya sendiri karena mengingkari kesetaraan yang melekat pada semua manusia. Dalam istilah Stoik, ia menjauh dari hidup yang sejalan dengan alam (living according to nature).

Halaman Selanjutnya
img_title