Zeno dari Citium: “Keborosan Adalah Penghancur Dirinya Sendiri”
- Cuplikan layar
Jakarta, WISATA — Filsuf Yunani kuno sekaligus pendiri aliran Stoikisme, Zeno dari Citium, pernah menyampaikan sebuah pernyataan bijak yang masih sangat relevan hingga hari ini: “Extravagance is its own destroyer.” Dalam bahasa Indonesia, kutipan ini berarti “Keborosan adalah penghancur dirinya sendiri.”
Pernyataan singkat ini mengandung makna filosofis yang dalam. Zeno menyampaikan bahwa perilaku boros bukan hanya merugikan dari sisi keuangan, tetapi juga menjadi akar dari banyak kehancuran dalam hidup seseorang. Baik secara moral, spiritual, maupun sosial, keborosan membawa dampak yang jauh melampaui pengeluaran uang yang berlebihan.
Makna Keborosan dalam Pandangan Stoik
Dalam filsafat Stoik, hidup sederhana merupakan kunci untuk mencapai kedamaian batin dan kebijaksanaan. Para filsuf Stoik meyakini bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada kemewahan atau kesenangan duniawi, melainkan dalam penguasaan diri dan hidup selaras dengan akal sehat dan alam.
Zeno menilai keborosan sebagai bentuk ketidakseimbangan batin. Seseorang yang boros biasanya berupaya mengisi kekosongan dalam dirinya melalui konsumsi yang berlebihan. Namun, justru dengan membiarkan dirinya dikendalikan oleh nafsu dan keinginan yang tak terkendali, orang tersebut mempercepat kehancurannya sendiri—baik secara mental, fisik, maupun ekonomi.
Relevansi Kutipan Zeno di Era Konsumerisme
Di zaman modern ini, di mana konsumerisme merajalela, pernyataan Zeno menjadi alarm moral yang patut direnungkan. Masyarakat kini didorong untuk terus membeli, meng-upgrade, dan mengikuti tren tanpa mempertimbangkan nilai atau kebutuhan yang sebenarnya. Gaya hidup boros bahkan kerap dijadikan standar kesuksesan oleh media sosial dan iklan-iklan digital.
Namun, data menunjukkan bahwa perilaku konsumtif yang berlebihan justru menjadi salah satu penyebab utama stres finansial, utang pribadi, dan ketidakseimbangan psikologis. Menurut survei yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2024, lebih dari 48% generasi muda Indonesia mengalami masalah keuangan akibat gaya hidup boros dan minimnya edukasi literasi keuangan.
Akibat Sosial dan Psikologis dari Keborosan
Keborosan tidak hanya berdampak secara finansial, tapi juga memicu ketimpangan sosial. Ketika sebagian orang hidup dalam kemewahan berlebih, banyak yang lainnya masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar. Hal ini menimbulkan kecemburuan sosial, ketidakadilan ekonomi, hingga mengganggu stabilitas masyarakat secara luas.