Epictetus: Kunci Hidup Bahagia Ada pada Kendali Diri, Bukan Dunia Luar
- Image Creator Grok/Handoko
“The chief task in life is simply this: to identify and separate matters so that I can say clearly to myself which are externals not under my control, and which have to do with the choices I actually control. Where then do I look for good and evil? Not to uncontrollable externals, but within myself to the choices that are my own…”
– Epictetus
Jakarta, WISATA — Dalam dunia yang penuh ketidakpastian dan distraksi, manusia modern sering kali merasa kewalahan menghadapi tekanan hidup. Banyak yang mencari ketenangan lewat harta, jabatan, atau pengakuan sosial. Namun, ribuan tahun yang lalu, seorang filsuf asal Yunani bernama Epictetus menawarkan pandangan sederhana namun mendalam: hanya kendali diri yang bisa membawa kebahagiaan sejati.
Epictetus adalah tokoh Stoikisme yang terkenal karena ajaran-ajarannya mengenai pengendalian diri dan penerimaan terhadap takdir. Kutipannya yang paling mendalam menyentuh pada inti dari ajaran Stoik: pisahkan hal-hal yang bisa kita kendalikan dari yang tidak bisa kita kendalikan, dan fokuslah hanya pada yang berada dalam kuasa kita.
Dua Dunia: Yang Bisa Dikendalikan dan Tidak
Menurut Epictetus, dunia terbagi menjadi dua:
1. Hal-hal di luar kendali kita seperti cuaca, opini orang lain, kesehatan tubuh, kematian, dan kejadian yang tak terduga.
2. Hal-hal yang dapat kita kendalikan, yaitu pikiran, sikap, keputusan, dan tindakan kita sendiri.
Sebagian besar penderitaan emosional manusia berasal dari keinginan untuk mengendalikan yang sebenarnya tidak bisa dikendalikan. Kita merasa cemas karena ingin orang lain selalu menyukai kita. Kita marah karena cuaca buruk merusak rencana. Kita kecewa karena orang lain tidak memenuhi harapan kita.
Epictetus mengajarkan bahwa semua itu sia-sia. Sebaliknya, ia mendorong kita untuk berfokus pada batin kita sendiri—pilihan, niat, dan sikap kita dalam menghadapi hidup.
Sumber Baik dan Buruk Ada di Dalam Diri
Salah satu poin utama dalam kutipan Epictetus adalah pertanyaan: Di manakah aku mencari baik dan buruk? Jawabannya tegas: bukan pada hal-hal eksternal yang tidak bisa kita atur, melainkan pada pilihan yang kita buat sendiri.