Perebutan Jacatra: Duel Sengit Belanda dan Inggris di Tanah Jawa
- dokumen Jaarboek van Batavia
Jakarta, WISATA - Artikel ini ditulis berdasarkan dokumen Jaarboek van Batavia en Omstreken 1927, yang berfungsi sebagai panduan sejarah, sosial, dan ekonomi Batavia (kini Jakarta) pada masa kolonial Hindia Belanda. Disusun oleh J. J. de Vries, dokumen tersebut memberikan pemahaman mendalam tentang kondisi Batavia bagi penduduk setempat dan masyarakat di Belanda pada masa itu. Dokumen ini memuat berbagai aspek kota Batavia, mulai dari sejarah pendiriannya, perkembangan administratif, sistem pemerintahan, infrastruktur, hingga kehidupan sosial masyarakatnya. Ada pula deskripsi mengenai perdagangan, industri, transportasi, dan sektor publik seperti kesehatan, pendidikan, dan keagamaan.
Bagian kedua serial “Mengungkap Batavia: Dari Kota Kolonial ke Metropolitan Jakarta” ini mengangkat kisah perebutan Jacatra—desa pesisir yang menjadi panggung konflik sengit antara Belanda (VOC) dan Inggris—hingga akhirnya VOC memenangi duel dan mendirikan Batavia pada 1619.
Latar Belakang Persaingan Eropa di Nusantara
Sejak abad ke-16, kawasan Nusantara menjadi incaran bangsa-bangsa Eropa yang berminat menguasai jalur rempah. Portugis lebih dulu tiba, mendirikan benteng di Malaka dan Goa. Namun mereka gagal memperkuat pangkalan di pantai utara Jawa. Ketika Belanda mendirikan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) pada 1602, perhatian mereka tertuju pada pulau-pulau rempah, terutama Maluku dan Banda. Sekalipun begitu, faktor strategis dan ekonomi segera membawa VOC ke Jawa.
Inggris, melalui merchant company-nya, mulai menancapkan tiang di wilayah yang sama. Kaum Inggris mendarat di Banten dan membangun “factory” (kantor dagang) kecil sejak 1602. Banten kala itu menjadi pusat dagang lada, pala, dan rempah lainnya. Kepentingan Inggris dan Belanda bentrok, memicu rivalitas dagang—with both sides eager to secure exclusive trading rights with local rulers.
Mengapa Jacatra Menjadi Sasaran
Jacatra (Soenda Kalapa) adalah desa pesisir kecil di muara Sungai Ciliwung. Sebelumnya desa ini hanya dikenal sebagai tempat singgah pedagang Melayu dan Arab. Namun catatan perjalanan Jan Huyghen van Linschoten membuka mata Belanda: muara ini cocok untuk benteng, pelabuhan, dan pusat komersial. Regent Jacatra—bukan Sultan Banten—lebih ramah pada tawaran VOC ketimbang tawaran Inggris.