Siddhartha Karya Hermann Hesse, Novel yang Menolak Berguru pada Sang Buddha demi Pencerahan Sejati

Siddhartha Karya Hermann Hesse
Sumber :
  • Amazon.com

Malang, WISATA - Sobat Wisata Viva, pernah membayangkan seorang pencari kebenaran yang justru menolak berguru langsung pada sosok yang telah mencapai pencerahan sempurna? Itulah jalan cerita yang ditempuh tokoh utama dalam novel Siddhartha, karya penulis pemenang Nobel Sastra asal Jerman, Hermann Hesse, yang terbit pada 1922. Novel ini lahir dari kekaguman Hesse terhadap kebudayaan India dan filsafat Timur, khususnya Hinduisme dan Buddhisme, setelah ia melakukan perjalanan langsung ke Asia pada 1911. Meski tokoh utamanya bernama Siddhartha dan berlatar di masa kehidupan Buddha Gautama, penting dicatat bahwa novel ini bukanlah biografi Sang Buddha. Siddhartha di sini adalah karakter fiksi yang menempuh jalan spiritualnya sendiri, sebuah jalan yang justru menolak dogma agama formal demi menemukan kebenaran yang autentik.

img_title Dunia Sophie, Novel Filsafat Jostein Gaarder yang Ternyata Menipu Pembacanya Sendiri

Meninggalkan Kemewahan Kasta Brahmana

Siddhartha digambarkan sebagai putra kaum Brahmana, kasta tertinggi dalam ajaran Hindu, yang tampan, cerdas, dan dicintai semua orang di sekelilingnya. Namun, di balik segala kemewahan itu, jiwanya justru merasa tidak puas. Ia merasa doktrin-doktrin agama yang selama ini diajarkan ayahnya tidak mampu memberikan kedamaian batin yang sejati. Bersama sahabat setianya, Govinda, Siddhartha akhirnya memutuskan meninggalkan rumah untuk bergabung dengan kaum Samana, para petapa pengembara. Di sana, ia belajar menyiksa diri, berpuasa, menahan lapar, dan bermeditasi demi menghancurkan ego. Namun, setelah beberapa tahun menjalani laku asketis itu, ia menyadari bahwa mengosongkan diri lewat penyiksaan jasmani hanyalah bentuk pelarian sementara dari penderitaan hidup, bukan solusi sesungguhnya.

img_title Orang Asing Karya Albert Camus, Novel yang Mengubah Rasa Bersalah Jadi Kebebasan Sejati

Bertemu Buddha, Tapi Memilih Jalan Sendiri

Perjalanan Siddhartha membawanya bertemu langsung dengan Gotama, Sang Buddha yang telah mencapai pencerahan sejati. Govinda begitu terpesona oleh ajaran Buddha hingga memutuskan menjadi muridnya. Namun, Siddhartha mengambil keputusan yang jauh lebih radikal. Meski mengagumi kesucian Sang Buddha, ia menolak untuk menjadi muridnya. Menurutnya, pencerahan tidak bisa diajarkan lewat kata-kata atau khotbah semata, sebab pengalaman pencerahan Buddha adalah milik Buddha sendiri, sementara orang lain harus mengalaminya secara langsung, bukan sekadar meniru teorinya. Keputusan inilah yang membuat jalan Siddhartha dan Govinda akhirnya berpisah, dan Siddhartha pun melanjutkan pencariannya seorang diri.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title 10 Novel Filsafat Ini Bawa Sobat Wisata Viva 'Piknik' ke Alam Pikiran, dari Sophie's World sampai 1984