CERPEN: "Ketika Kereta Lewat" - Bab 6, Ayah yang Datang dan Pergi

CERPEN: "Ketika Kereta Lewat" - Bab 6, Ayah yang Datang dan Pergi
Sumber :
  • Suwanto Rusdi

Jakarta, WISATA Ayah Bayu datang tanpa aba-aba, seperti hujan yang jatuh di musim yang salah.

Ia datang dari kematian yang sudah lama mereka terima.

Tidak ada suara salam. 

Tidak ada ketukan di pintu.

Bayu pertama kali menyadari kehadirannya dari bau asin yang menyelinap ke dalam gubuk bau laut yang bercampur dengan keringat dan solar. 

Bau yang dulu sering menempel di tubuh seorang lelaki yang telah mereka ikhlaskan pergi.

Bayu membeku.

Bau itu...bau orang mati dalam ingatannya.

Laki-laki itu berdiri di ambang pintu, tubuhnya lebih kurus dari yang Bayu ingat, seolah laut telah menggerogoti dagingnya sedikit demi sedikit. 

Wajahnya gelap oleh matahari, matanya cekung, garis-garis lelah terukir seperti bekas jaring di dahi dan sudut mata. 

Di bahunya tergantung tas lusuh tas orang hidup yang selalu siap pergi, bukan tas orang yang kembali.

“Yu,” katanya, singkat.

Satu kata itu membuat dada Bayu berdesir keras.

Bukan oleh rindu melainkan oleh ketakutan yang tak sempat diberi nama.

Seperti melihat hantu yang memanggil dengan suara paling dikenalnya.

Bayu berdiri pelan, ragu antara melangkah atau mundur. 

Tenggorokannya kering.

“Bapak…,” katanya akhirnya, lirih, seolah takut jika suaranya terlalu jelas, lelaki itu akan menghilang lagi. 

Bayu memeluk rindu ayahnya yang sudah lama dia nantikan. Pak Rosadi mengusap lembut kepala Bayu. 

Berucap lembut. 

“Kamu semakin besar nak..,bapak kangen banget sama kamu,” Suaranya berat.

Bu Inah keluar dari dapur kecil.

Langkahnya terhenti di ambang pintu. 

Ia hanya diam membisu, terpaku dengan keadaan, terdiam oleh sebuah drama antara kebenaran dan kehampaan.

Matanya membesar bukan karena bahagia, tetapi karena ingatan.

Tentang malam bertahun-tahun lalu. 

Tentang kabar yang dibawa orang-orang kampung. 

Tentang perahu terbalik, jaring kosong, dan laut yang tidak mengembalikan apa pun.

Tentang doa tahlil yang ia baca sambil menggenggam baju suaminya yang basah asin, oleh air laut.

“Kamu…,” suaranya tercekat, lalu mengeras,“…pulang.”

Bukan sambutan.

Bukan pelukan.

Itu kalimat gestur yang biasa diucapkan pada sesuatu yang seharusnya tidak ada. 

Matanya berembun di kelopak tanpa tertahan. 

Bahu terguncang menahan luka dan nestapa serta rindu yang mendalam. 

Pelan…tetesan embun itu akhirnya luluh diantara kelopak matanya yang masih terlihat bening.

Raut cantik wajahnya seketika berubah memerah menahan gundah dan gulana perihnya kehidupan ia alami sepanjang peninggalan suaminya

Ayah Bayu mengangguk pelan, seperti orang yang datang dari perjalanan jauh, bukan dari kubur yang telah mereka gali dalam hati. 

Ia meletakkan tasnya.

“Laut lagi susah. Alhamdulillah Allah masih memberiku waktu untuk berkumpul dengan kalian.”

Kalimat itu jatuh berat.

Bukan sebagai penjelasan melainkan sebagai penghapus semua pertanyaan.

Bu Inah menunduk. 

Tangannya gemetar sebentar, lalu sibuk lagi dengan panci. 

Ia tidak bertanya bagaimana ia bisa hidup. 

Tidak bertanya mengapa ia tak pulang bertahun-tahun. 

Tidak bertanya apakah laut benar-benar menelannya atau hanya menyembunyikannya. 

Karena ada pertanyaan yang terlalu menyakitkan untuk dijawab.

Malam itu mereka makan bersama. 

Inah menyuguhkan teh manis hangat dengan cinta.

Nasi sedikit. 

Lauk sederhana.

Ayah Bayu makan pelan, nyaris tanpa suara seperti orang yang takut mengganggu rumah yang sudah lama berjalan tanpa dirinya.

Bayu mencuri pandang.

Tangan itu kasar, kuku menghitam, penuh bekas tali dan garam. 

Tangan yang dulu mengangkatnya tinggi-tinggi, sebelum laut mengambil segalanya. 

Bayu mencoba mencari wajah ayahnya dalam ingatan wajah yang menjanjikan masa depan.

Yang ia temukan hanyalah bayangan samar, seperti foto yang terlalu lama terpapar matahari.

“Sekolahmu gimana?” tanya ayahnya tiba-tiba.

Bayu tersentak.

Ia menelan suapan yang terasa pahit.

“Alhamdulillah, lancar pak. Ibu selalu menyemangatiku. Dan aku ingin kuat serta tangguh seperti bapak,” Rosadi tersenyum.

“Nilai?”

“Lumayan.”

Ayahnya mengangguk. 

Menyeruput kopi yang disediakan Inah.

Cukup.

Tidak ada, Maaf aku tak ada.

Tidak ada, Kamu baik-baik saja tanpa aku?

Tidak ada, Aku hampir mati di laut.

Percakapan berhenti seperti napas yang ditahan terlalu lama.

Setelah makan, ayah Bayu duduk di luar, merokok. 

Asap mengepul, bercampur udara malam. 

Bu Inah membereskan sisa makanan dengan gerakan mekanis, seperti orang yang menahan sesuatu agar tidak runtuh.

Bayu duduk di sudut, membuka buku. 

Lampu tempel menyala redup.

“Belajar terus,” komentar ayahnya dari luar.

Bayu ingin tertawa.

Ia ingin berteriak.

Ia ingin berkata tentang tubuhnya yang pernah tergeletak pingsan di rel, tentang lapar yang membuatnya gemetar, tentang ketakutan yang ia hadapi sendirian tentang bagaimana ia tumbuh tanpa ayah yang sudah ia relakan mati.

Tapi ia diam.

Karena ia tahu, kata-kata itu akan jatuh ke ruang kosong yang sama ruang yang sejak dulu memisahkan mereka.

Kereta lewat.

Getarannya merambat ke dalam dada Bayu.

Ayahnya menoleh ke arah rel, menghisap rokok lebih dalam. Wajahnya keras, matanya kosong mata orang yang pernah menatap laut terlalu lama.

“Kamu jangan main ke situ,” katanya singkat, tanpa menoleh.

Bayu mengangguk.

Ia selalu mengangguk pada ayahnya.

Seperti ia selalu mengangguk pada nasib.

Keesokan paginya, ayah Bayu sudah pergi.

Tasnya tidak ada.

Tidak ada pesan.

Tidak ada pamit.

Hanya sisa puntung rokok di tanah dan bau asin yang perlahan menghilang seperti mayat yang akhirnya benar-benar dikubur oleh waktu.

Bu Inah tidak berkata apa-apa.

Ia kembali pada adonan kue, seperti kembali pada hidup yang sudah ia bangun tanpa suami.

Bayu bersiap ke sekolah.

Hidup berjalan seperti biasa seolah kepulangan ayahnya semalam hanyalah mimpi buruk yang singkat, atau hantu yang datang hanya untuk memastikan mereka masih hidup.

Di sekolah, Bayu menatap papan tulis tanpa benar-benar melihat.

Dan di sanalah kesadarannya mengeras:

Ia tidak bisa menunggu orang yang bahkan kematiannya pun tak pernah jelas.

Ia tidak bisa menggantungkan masa depan pada seseorang yang selalu memilih laut datang dan pergi sesuka gelombang.

Sore itu, Bayu berjalan menyusuri rel.

Tidak mendekat hanya sejajar.

Kereta melintas, cepat dan bising.

Ia berdiri tegak.

Tanpa iri.

Tanpa takut.

“Aku tidak akan seperti itu,” katanya dalam hati.

“Aku tidak akan menghilang.”

Malam turun. Lampu tempel dinyalakan.

Bayu membuka buku, menulis lebih rapi dari biasanya.

Setiap huruf adalah janji kecil yang ia buat untuk dirinya sendiri.

Setiap baris adalah penanda bahwa ia memilih tinggal meski ayahnya selalu pergi, bahkan dari kematian.

Ayahnya mungkin kembali.

Atau mungkin hanya lewat.

Tapi Bayu memilih bertahan.

Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengerti:

bahwa menjadi kuat tidak selalu berarti memiliki ayah di rumah, kadang justru berarti berhenti menunggu orang yang tak pernah benar-benar pulang.

(Bersambung...)

img_title Rahasia Cantik Menjaga Tanaman Tetap Berwarna hingga Desember