CERPEN: "Ketika Kereta Lewat", Bab 3 - Diambang Sore

CERPEN: "Ketika Kereta Lewat", Bab 3 - Diambang Sore
Sumber :
  • Suwanto Rusdi

Jakarta, WISATA – Pagi selalu datang dengan bau yang sama di gubuk itu: campuran minyak goreng, adonan kue, dan tanah basah. 

Bau yang bagi Bayu bukan sekadar penanda waktu, melainkan pengingat akan hidup yang harus dijalani sebelum bel sekolah berbunyi. 

Ia terbangun ketika Bu Inah sudah duduk bersila di lantai, tangannya cekatan mengaduk adonan dalam baskom plastik yang bagian pinggirnya retak.

Api kompor kecil menyala malu-malu. 

Di luar, langit masih pucat, seakan enggan memberi terang pada hari yang akan berjalan panjang. 

Sebuah radio kuno menemani dengan lagu-lagu nostalgia. 

Yang terdengar lantunan dari artis dangdut legendaris dengan lagunya…Diambang Sore. 

Inah tampak menikmati lagu tersebut, yang jelas terpancar dari raut wajahnya yang bersemu merah, bibir lembutnya juga mengikuti bait demi bait lantunan lagu tersebut.

“Kamu tidur lagi saja, Yu,” kata Bu Inah tanpa menoleh.

Bayu menggeleng. 

“Nanti keburu, Bu.”

Ia mengambil air, membasuh muka, lalu membantu membungkus kue-kue yang masih hangat. 

Uapnya naik perlahan, menyentuh wajah Bayu. 

Untuk sesaat, perutnya terasa perih oleh rasa lapar. 

Ia menelan ludah. 

Sarapan adalah sesuatu yang jarang hadir utuh. 

Kadang hanya sisa kue yang tak laku, kadang hanya air hangat.

Setelah keranjang siap, Bayu menggantungkannya di lengan. 

Langkahnya ringan, meski beban di tangannya tidak. 

Ia menyusuri kampung dengan rute yang sama, menyapa pagi yang tidak pernah benar-benar ramah.

“Kuuee… kuee…” suaranya kecil, hampir tenggelam oleh suara motor yang lewat.

Ada rumah yang pintunya terbuka lebar, penghuninya menyambut dengan senyum. 

Ada juga rumah yang jendelanya tertutup, tirainya bergoyang pelan tanda ada orang di dalam, tetapi memilih diam. 

Bayu tak tersinggung. Ia sudah terbiasa.

Ketika matahari mulai naik, ia menghitung sisa kue. 

Waktu menipis. 

Ia berlari kecil menuju gubuk, menyerahkan uang receh pada Bu Inah, lalu berganti seragam. 

Kemejanya kusam, celananya sedikit kependekan. 

Sepatunya hasil lungsuran sudah kehilangan warna aslinya.

Di depan cermin kecil yang retak, Bayu merapikan kerah. 

Ia menatap pantulan dirinya sendiri. 

Wajah itu serius, terlalu serius untuk anak seusianya. 

Ia menarik napas, lalu keluar.

Di sekolah, dunia terasa berbeda. 

Halamannya luas, bangunannya kokoh. 

Teman-temannya datang dengan tas yang bersih, sepatu mengkilap, dan bekal yang dibungkus rapi. 

Bayu duduk di bangku dekat jendela, seperti biasa. 

Ia berusaha mengecilkan dirinya sendiri menjadi cukup kecil agar tak menarik perhatian.

Namun perhatian tidak selalu bisa dihindari.

“Bayu, kamu jualan kue lagi ya pagi ini?” tanya seorang gadis kecil nan manis, setengah bercanda, namanya Dahlia. 

Bayu tersenyum tipis.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Satu Akhir Pekan, Dua Panggung Raksasa: Konser Ye di GBK dan Jakarta Running Festival Ramaikan Ibu Kota