CERPEN: Cinta yang Hilang (1)....."Izinkan Aku Mencintaimu"

Cinta yang Hilang
Sumber :
  • Suwanto Rusdi

Jakarta, WISATA Senja merayap masuk ke kamar Ardan, memantulkan warna jingga pada dinding yang lama tak disentuh tawa. 

Di bangku kayu dekat jendela bangku yang sudah mulai retak oleh umur, Ardan dan Claudia duduk bersebelahan. 

Di luar, angin sore berembus perlahan, membawa aroma tanah dan rasa rindu yang entah datang dari mana.

Claudia memandang keluar jendela, matanya tenang, namun menyimpan gelisah halus yang tidak pernah ia akui. 

Cahaya matahari membuat wajahnya tampak seperti lukisan yang akan menghilang jika disentuh.

“Senja selalu membuatku rindu sesuatu,” ucapnya lirih, tanpa menoleh.

Ardan menatapnya lama, sambil bertanya, “Rindu apa kali ini?” 

Claudia mengusap ujung jari pada kusen jendela. 

“Rindu hal yang belum sempat kuraih…dan hal yang takut hilang sebelum sempat kupeluk,” ucap Claudia.

Ardan tersenyum tipis, meski ada sesuatu yang menekan dadanya. 

“Kalau begitu, genggamlah aku, Nis. Aku tidak ke mana-mana.”

Claudia menatap tangannya sendiri sejenak, sebelum perlahan meraih tangan Ardan. 

“Dan… kau pernah takut nggak? Takut suatu hari aku bangun dan dunia membawaku ke tempat yang tidak bisa kau ikuti?” ujar Claudia.

Ardan terdiam, bukan karena tak punya jawaban, tapi karena ia merasakan betapa nyatanya ketakutan itu.

Aku selalu takut,” katanya, akhirnya. 

“Kau itu seperti langkah yang ringan, bisa pergi kapan saja. Tapi kalau pun itu terjadi…aku ingin tetap mengingatmu. Bukan sebagai luka, tapi sebagai cahaya.” 

Claudia menunduk, seolah berusaha menyembunyikan getaran kecil di bibirnya. 

“Kalau aku benar-benar pergi… apa kau tetap akan merindukanku?”

“Merindukanmu itu seperti detak jantung. Terjadi, bahkan saat aku tak sadar,” jawab Ardan. 

Angin sore menyusup lewat celah jendela, mengibaskan rambut Claudia. 

Ia menutup matanya, seakan sedang mendengarkan sesuatu yang hanya ia bisa dengar.

“Dan…” suaranya hampir hilang, “kalau aku tak bisa kembali?”

Ardan meraih kedua tangannya, seolah ingin mengikat waktu agar berhenti bergerak. 

“Kalau kau tak kembali, aku tak akan marah. Aku hanya akan menyimpanmu di tempat yang tak bisa dihapus siapa pun.”

Claudia membuka mata perlahan. Ada air yang berkilau tapi tak jatuh. 

“Izinkan aku mencintaimu…bahkan kalau nanti aku harus mencintaimu dari jauh.”

Ardan menelan napasnya sendiri. 

“Dan izinkan aku menyebutmu rumah…walau suatu hari aku tak lagi tahu di mana pintunya.”

Keduanya terdiam, membiarkan senja menyelimuti tubuh mereka. 

Tidak ada yang tahu bahwa momen itu senyap, hangat, rapuh, kelak akan menjadi kenangan yang diulang oleh Ardan ribuan kali dalam kesepiannya. 

Sebuah kenangan yang tidak pernah berniat menyiksa, tetapi juga tidak pernah benar-benar pergi.

Di antara desau angin, Claudia menyandarkan kepalanya di bahu Ardan. 

Ia memejamkan mata, dan Ardan merasakan sesuatu yang aneh, seperti bisikan perpisahan yang belum diucapkan.

Dan sore itu, untuk pertama kali dalam hidupnya, Ardan berharap waktu mau berhenti. 

Karena di balik genggaman tangan yang hangat, ia merasakan sesuatu yang jauh lebih dingin, ketakutan bahwa sebentar lagi, ia tidak akan bisa menggenggam apa pun…

(Bersambung...)

img_title CERPEN: Cinta yang Hilang (2)......"Aku Datang Bukan untuk Tinggal".