Remaja 17 Tahun Ini Pilih Jalani Profesi Unik Sebagai Pembersih Trauma Demi Bantu Orang Tua

Darwisy Rahman
Sumber :
  • 8days.sg

Singapura, WISATA – Kisah inspiratif Darwisy Rahman remaja asal Singapura yang bekerja sebagai pembersih trauma di akhir pekan sambil mempersiapkan diri menghadapi ujian sekolah.

img_title KidZania Jakarta, Kota Mini Tempat Anak Belajar Profesi Sambil Bermain Seru

Pernahkah kamu membayangkan apa yang dilakukan oleh seorang anak berusia empat belas tahun di waktu luangnya? Sebagian besar remaja seusia itu mungkin akan menghabiskan akhir pekan mereka dengan bermain gim video, berkumpul bersama teman-teman sekolah, atau sekadar beristirahat di rumah. Namun, hal tersebut sama sekali tidak berlaku bagi Darwisy Rahman, seorang remaja asal Singapura yang memilih untuk mengenakan pakaian pelindung diri secara lengkap demi membantu membersihkan rumah tempat seseorang meninggal dunia.

Kini, di usianya yang menginjak tujuh belas tahun dan tengah sibuk mempersiapkan diri menghadapi ujian O-Levels di Meridian Secondary School, Darwisy tetap menyisihkan akhir pekannya untuk bekerja. Ia dengan tegar dan telaten membantu kedua orang tuanya melakoni profesi yang tidak biasa, yaitu sebagai seorang pembersih trauma atau trauma cleaner. Pekerjaan penuh tantangan ini tentu mengundang rasa penasaran banyak pihak, mengingat risiko serta pemandangan ekstrem yang harus dihadapi setiap kali mereka mendapatkan panggilan tugas dari lapangan.

img_title Menjejakkan Kaki di Jembatan Gordie Howe: Kisah Nenek 102 Tahun yang Mewujudkan Impian Unik Lintas Negara

Perjalanan Awal Bergabung dengan Bisnis Keluarga yang Penuh Tantangan

Profesi unik ini sebenarnya berawal dari usaha keluarga yang dirintis oleh ayah kandungnya, Rahman Razali, sejak tahun 2012 silam melalui perusahaan bernama DDQ Services. Perusahaan tersebut bergerak secara khusus di bidang pembersihan biohazard serta penanganan rumah-rumah yang ditinggal mati oleh penghuninya, terutama dalam kondisi di mana terdapat ceceran darah atau proses dekomposisi. Pada awalnya, sang ayah sempat merasa ragu dan menolak ketika Darwisy pertama kali mengutarakan niatnya untuk ikut terjun langsung ke lapangan pada usia empat belas tahun.

img_title UNDIP dan Pertamina Resmi Buka Program Profesi Insinyur bagi 300 Perwira Terpilih

Menurut laporan dari program dokumenter Mediacorp, Gen Z Crash Course, sang ayah merasa bahwa anaknya masih terlalu muda dan belum siap mental menghadapi kenyataan pahit di tempat kejadian. Kendati demikian, keteguhan hati serta keinginan kuat Darwisy untuk benar-benar memahami makna pekerjaan tersebut akhirnya meluluhkan hati ayahnya. Memulai kariernya sebagai seorang pembantu lapangan atau runner yang mengurus hal-hal ringan setelah proses utama selesai, kini remaja tersebut bahkan dipercaya untuk memimpin sebuah tim kecil di usianya yang masih belasan tahun.

Halaman Selanjutnya
img_title