Perdagangan Indonesia-Bolivia Tumbuh 7 Persen, Peluang Ekspor Terbuka di TEI 2026
- IG/indonesiainlima
Jakarta, WISATA – Hubungan perdagangan Indonesia dan Bolivia menunjukkan perkembangan positif sepanjang awal 2026. Berdasarkan data perdagangan periode Januari-Mei 2026, nilai total perdagangan kedua negara mencapai US$19,33 juta atau meningkat sekitar 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari angka tersebut, Bolivia mencatat impor produk dari Indonesia sebesar US$18,18 juta. Sementara ekspor Bolivia ke Indonesia mencapai US$1,15 juta. Komposisi perdagangan ini menunjukkan masih besarnya ruang bagi produk Indonesia untuk memperluas pasar di Amerika Selatan.
Sejumlah produk menjadi andalan Indonesia di pasar Bolivia. Lima komoditas utama yang diimpor Bolivia dari Indonesia adalah kendaraan penumpang dengan kode HS 8703, filter dan mesin sentrifugal (HS 8421), kaca float (HS 7005), kendaraan pengangkut barang atau truk (HS 8704), serta lemak dan minyak yang dimodifikasi (HS 1516).
Di sisi lain, Bolivia memasok sejumlah komoditas ke Indonesia. Produk yang tercatat dalam perdagangan tersebut antara lain borat alam dengan kode HS 2528 dan bagian mesin dengan kode HS 8431.
Pertumbuhan perdagangan tersebut menjadi sinyal bahwa hubungan ekonomi kedua negara masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Apalagi Indonesia terus mencari pasar ekspor baru di luar kawasan tradisional Asia dan memperluas akses produk nasional ke Amerika Latin.
Momentum tersebut dapat dimanfaatkan melalui Trade Expo Indonesia (TEI) 2026, pameran dagang internasional yang memasuki penyelenggaraan ke-41. Ajang ini akan berlangsung pada 14-18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang, Banten.
TEI 2026 mengusung tema “The Ultimate Hub for Global Sourcing” dan dirancang sebagai platform bagi perusahaan Indonesia untuk bertemu pembeli serta mitra bisnis internasional. Kegiatan ini mencakup pameran produk, business matching, konsultasi ekspor, jejaring bisnis, dan program pengembangan pasar.
Potensi TEI sebagai pintu masuk pasar global juga terlihat dari penyelenggaraan sebelumnya. Pada 2025, TEI mencatat transaksi sekitar US$22,8 miliar, melibatkan 1.619 peserta pameran dan 8.045 pembeli internasional dari berbagai negara.
Bagi pelaku usaha Indonesia, meningkatnya perdagangan dengan Bolivia dapat menjadi alasan untuk melihat Amerika Latin sebagai pasar yang lebih serius. Produk manufaktur, otomotif, pangan, pertanian, hingga berbagai barang bernilai tambah memiliki peluang untuk diperkenalkan melalui forum perdagangan internasional.