Utopia Indonesia Emas 2045 dan Ancaman Musim Dingin: Mampukah Talenta AI Lokal Bertahan di Tengah Gelombang Disrupsi?

Yoyok Pitoyo (Kanan) di Chungnam Global Business Matching, Korea Selatan
Sumber :
  • Handoko/Istimewa

Jakarta, WISATA - Setiap kali mengamati arah kebijakan ekonomi digital bangsa ini, bayangan mengenai ancaman besar masa depan kerap melintas. Istilah winter is coming atau musim dingin bakal tiba rasanya sangat pas menggambarkan situasi saat ini. Kalimat singkat tersebut mengandung makna mendalam bahwa sebuah badai perubahan raksasa sedang mengintai tanpa peduli apakah suatu negara sudah siap menghadapinya atau belum.

img_title Tiga KRI Sisir Selat Sunda, Pencarian Lima Jurnalis Hilang di Tengah Ancaman Gunung Anak Krakatau

Hari ini, musim dingin itu hadir dalam wujud disrupsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Laju otomatisasi bergerak sedemikian cepat hingga mengubah lanskap pasar kerja global. Sementara itu, di dalam negeri, kegiatan seremonial masih sering mendominasi dibanding langkah konkret. Ketua Umum Komite Pengusaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia Bersatu, Yoyok Pitoyo, melontarkan kegelisahannya mengenai kesiapan generasi muda. Sanggupkah anak-anak muda Indonesia bertarung di era ini, atau mimpi besar Indonesia Emas 2045 justru berisiko menjadi utopia di atas kertas?

Posisi Indonesia dalam Peta Kesiapan Teknologi

img_title Hari Anak Nasional 2026: Tema, Harapan untuk Generasi Emas Indonesia, dan Inspirasi Perayaan di Berbagai Daerah

Melihat data Government AI Readiness Index, posisi Indonesia tercatat berada di urutan ke-42 dari 190 negara. Untuk tingkat Asia Tenggara, Indonesia menempati urutan keempat, berada di belakang Singapura yang memimpin di kelas elite, serta kalah cepat dibanding Malaysia dan Thailand yang terus membenahi regulasi dan infrastruktur digital mereka.

Kondisi ini terbilang ironis mengingat masyarakat Indonesia sangat responsif terhadap teknologi baru. Tingkat penggunaan aplikasi berbasis kecerdasan buatan di Indonesia merupakan salah satu yang tertinggi di Asia Pasifik. Namun, peran yang dimainkan sejauh ini masih sebatas konsumen pasif. Ibarat memasuki musim dingin, masyarakat telah terpapar dampaknya, tetapi kesiapan pendukung seperti infrastruktur komputasi dan pemenuhan talenta lokal masih minim. Tanpa penguatan kapasitas mandiri, potensi bonus demografi berisiko hanya menjadi target pasar bagi produk asing.

img_title UMKM Termarjinalkan, Dikhawatirkan Indonesia Gagal Capai Indonesia Emas 2045

Lompatan Agresif Korea Selatan dan Malaysia

Langkah berbeda ditunjukkan oleh negara-negara tetangga dan raksasa Asia Timur yang bergerak cepat dengan target terukur. Korea Selatan tengah melakukan lompatan besar menuju penerapan smart industry dan smart farming berbasis artificial intelligence. Pemerintah Korea Selatan mengucurkan investasi berskala besar untuk mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan ke sektor manufaktur, galangan kapal, hingga pertanian rumah kaca atau smart greenhouse.

Halaman Selanjutnya
img_title