Pengelolaan Suaka Margasatwa Komara Melalui Inventarisasi Keanekaragaman Hayati dan Sosialisasi Konservasi

Sosialisasi konservasi
Sumber :
  • kehutanan.go.id

Gowa, WISATA – Kementerian Kehutanan melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan terus memperkuat pengelolaan kawasan konservasi berbasis data dan ilmu pengetahuan. Salah satunya dilakukan melalui inventarisasi tumbuhan dan satwa liar di Suaka Margasatwa (SM) Ko'mara pada 29–31 Juli 2026.

img_title Sosialisasi Rekonstruksi Batas KHDTK Diklat Kehutanan Malili Tahun 2026

Kegiatan tersebut melibatkan petugas Resor Ko’mara, mahasiswa Praktik Kerja Lapangan Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, serta Masyarakat Mitra Polhut (MMP). Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya memperbarui data keanekaragaman hayati, memantau kondisi habitat, dan memperkuat keterlibatan akademisi, generasi muda, serta masyarakat dalam menjaga kawasan konservasi.

Arah kegiatan tersebut sejalan dengan penegasan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bahwa pengelolaan kawasan konservasi harus dilaksanakan berdasarkan informasi ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

img_title Pengelolaan sampah di Kota Batu: Tim Operasional TPS3R, Rumah Kompos, dan Sinergi Antar Elemen Masyarakat

“Pengelolaan kawasan konservasi harus didasarkan pada data dan riset ilmiah yang kuat,” tegas Menteri Kehutanan.

Inventarisasi di tingkat tapak merupakan fondasi penting bagi penyusunan kebijakan konservasi yang tepat sasaran. Data mengenai kondisi spesies, populasi, habitat, dan perubahan ekosistem diperlukan untuk menentukan prioritas perlindungan, pemulihan ekosistem, serta mitigasi berbagai ancaman terhadap keanekaragaman hayati.

img_title Penerapan ETLE: Ambulans Terobos Lampu Merah dan Prioritas di Jalan Raya

Langkah tersebut juga selaras dengan pelaksanaan Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia atau Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045, sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya Tujuan 15 mengenai perlindungan ekosistem daratan dan keanekaragaman hayati.

Kepala Bidang KSDA Wilayah II BBKSDA Sulawesi Selatan, Mustari Tepu, menjelaskan bahwa inventarisasi tumbuhan dan satwa liar bertujuan memperoleh data dasar atau baseline, memetakan kondisi habitat, serta menyediakan bahan bagi penyusunan dan pelaksanaan rencana pengelolaan kawasan konservasi yang lebih efektif dan berkelanjutan.

“Kolaborasi bersama Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin telah terjalin dengan baik. Kami berharap kerja sama ini dapat terus mendukung upaya pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati di Suaka Margasatwa Ko’mara,” ujar Mustari.

Dalam inventarisasi yang dilaksanakan pada 29–30 Juli 2026, tim mengidentifikasi sejumlah flora khas Sulawesi, antara lain eboni (Diospyros celebica), cenrana (Pterocarpus indicus), aren (Arenga pinnata), serta berbagai jenis bambu. Tim juga menemukan monyet dare (Macaca maura) yang merupakan satwa endemik Sulawesi, jejak babi hutan, berbagai jenis burung, kupu-kupu, dan satwa lainnya.

Halaman Selanjutnya
img_title