Universitas Diponegoro Bersiap Dobrak Batas Inovasi Lewat Kolaborasi Teknologi Satelit dan Antariksa
- UNDIP.ac.id
Semarang, WISATA - Menikmati senja di perbukitan Tembalang, Kota Semarang, selalu memberikan ketenangan tersendiri bagi siapa saja yang berkunjung. Udara pegunungan yang sejuk bertiup lembut di antara pepohonan rindang, sementara lampu-lampu kota mulai menyala di kejauhan membentuk pemandangan ciamik. Di balik suasananya yang damai dan asri, kawasan kampus atas Universitas Diponegoro ini ternyata sedang bersiap melakukan lompatan besar yang tidak main-main. Bukan lagi sekadar meneliti apa yang ada di bumi atau laut Nusantara, para akademisi kampus ini mulai mengarahkan pandangan mereka jauh ke atas langit luar angkasa, bersiap menembus batas atmosfer melalui pengembangan teknologi satelit dan keantariksaan nasional.
Langkah berani ini dibahas secara mendalam dalam forum bertajuk Audiensi dan Diskusi Penguatan Kolaborasi Inovasi Teknologi Satelit dan Keantariksaan yang digelar dengan khidmat di Ruang Sidang Rektor, Gedung Widya Puraya Lantai 2, Kampus UNDIP Tembalang. Agenda strategis yang berlangsung pada Kamis, 9 Juli 2026 ini mengumpulkan para pemikir terbaik bangsa guna menyatukan energi, menyusun strategi hilirisasi riset, serta mengoptimalkan pengembangan sumber daya manusia di bidang kedirgantaraan yang selama ini masih sangat jarang tersentuh oleh institusi pendidikan tinggi di tanah air.
Sinergi Multidisiplin Ilmu Demi Mewujudkan Kemandirian Bangsa
Pertemuan tingkat tinggi ini dihadiri langsung oleh Rektor Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., bersama jajaran pimpinan universitas dan para dekan fakultas. Tidak bergerak sendirian, pihak kampus menggandeng otoritas riset tertinggi negara dengan menghadirkan Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, Prof. Dr.-Ing. Ir. Wahyudi Hasbi, S.Si., M.Kom., serta Ketua Tim Kebijakan Keantariksaan BRIN, Intan Perwitasari, S.E., M.E. Jaringan kolaborasi ini pun semakin kuat dengan keterlibatan aktif Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI New Delhi, Prof. Fuad, Ph.D., serta Direktur Utama PT Len Industri (Persero), Prof. Joga Dharma Setiawan, Ph.D., yang turut urug rembuk memaparkan peta jalan industri satelit nasional secara daring.
Esensi utama dari penjajakan teknologi tinggi ini bertumpu pada kesadaran penuh bahwa di era modern ini, bekerja secara terisolasi atau sendiri-sendiri sudah tidak lagi relevan. Diperlukan sebuah integrasi dan sinergi yang kokoh di mana masing-masing institusi saling melengkapi kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Pengembangan satu unit satelit utuh merupakan sebuah sistem kompleks yang bersifat multidisiplin. Proyek ini tidak akan pernah bisa diselesaikan jika hanya mengandalkan para ahli teknik elektro semata, melainkan wajib melibatkan para pakar dari cabang ilmu teknik mekanik, komunikasi digital, pengembang perangkat lunak (software engineering), ahli geologi, hingga para pakar hukum udara dan internasional untuk mengkaji regulasi hukum antariksa global.