UMKM Termarjinalkan, Dikhawatirkan Indonesia Gagal Capai Indonesia Emas 2045
- Handoko
Jakarta, WISATA - Langkah kaki sore itu terasa lebih berat di salah satu sudut pusat grosir Jakarta. Lapak-lapak UMKM yang biasanya riuh dengan tawar-menawar kini lebih banyak menyajikan pemandangan pramuniaga yang asyik memainkan gawai pintar mereka. Sepi. Bukan karena riuh musiman yang telah lewat, melainkan karena daya beli masyarakat yang sedang melunglai. Lanskap lesunya roda ekonomi ini bukan sekadar cerita fiksi, melainkan cerminan dari sebuah riak besar di tingkat makro yang kini tengah mengancam mimpi besar bangsa ini menuju gerbang Indonesia Emas 2045.
Ketika berbicara tentang visi menjadi negara maju, fondasi utama yang harus diperkuat adalah para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, UMKM, serta kokohnya tatanan kelas menengah. Namun yang terjadi di lapangan saat ini justru sebaliknya. Kelompok motor penggerak ekonomi domestik ini perlahan merasa kian termarginalkan akibat himpitan ekosistem bisnis dan rantai pungutan fiskal yang agresif.
Jeritan UMKM yang Kian Terpinggirkan
Suara kecemasan ini bukan tanpa alasan. Yoyok Pitoyo, Ketua Umum Komite Pengusaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia Bersatu (KOPITU), menyoroti bagaimana pelaku usaha kecil saat ini seolah berjalan sendirian di tengah badai. Menurutnya, proteksi terhadap predatory pricing atau praktik banting harga ekstrem di pasar digital masih sangat minim. Serbuan barang impor murah yang membanjiri platform e-commerce dan social commerce membuat produk konveksi serta ritel lokal babak belur tidak karuan.
Mayoritas unit usaha di tanah air masih terjebak di level mikro dan informal. Keterbatasan akses terhadap modal murah, rendahnya adopsi teknologi seperti kecerdasan buatan, serta manajemen yang masih tradisional membuat mereka sulit untuk naik kelas. Alih-alih menjadi inkubator inovasi nasional, sektor ini bergeser fungsinya menjadi jaring pengaman darurat bagi para korban pemutusan hubungan kerja yang terpaksa berwirausaha demi bertahan hidup atau dikenal dengan istilah necessity entrepreneurship.
Peta Rasio Kewirausahaan Indonesia yang Tertinggal
Berdasarkan data resmi teranyar yang dirilis oleh Kementerian UMKM bersama Kementerian Perdagangan, indeks rasio kewirausahaan nasional Indonesia saat ini masih tertahan di angka 3,29 persen. Walaupun performa ini sebetulnya telah melampaui target jangka pendek yang dibidik pemerintah pada angka 3,10 persen dengan fluktuasi sektoral di kisaran 3,35 persen hingga 3,47 persen, angka tersebut nyatanya belum cukup aman.