Implementasi Biodiesel B50 di Indonesia: Tantangan Teknis yang Harus Diatasi agar Mesin Tetap Optimal
- its.ac.id
Surabaya, WISATA – Pemerintah menargetkan penerapan biodiesel B50 sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Namun, keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada kebijakan, melainkan juga kesiapan teknologi dan sistem mesin yang menggunakannya.
Guru Besar Departemen Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. Ir. Bambang Sudarmanta, ST, MT, IPM, AEng, menjelaskan bahwa biodiesel memiliki karakteristik fisik dan kimia yang berbeda dibandingkan solar berbasis fosil. Perbedaan tersebut dapat memengaruhi performa mesin, efisiensi pembakaran, hingga umur komponen bahan bakar jika tidak diantisipasi dengan baik.
Menurutnya, biodiesel memiliki densitas dan viskositas lebih tinggi. Kondisi ini dapat menyebabkan jumlah bahan bakar yang diinjeksikan meningkat, sementara proses pengabutan (atomisasi) menjadi kurang sempurna. Akibatnya, pencampuran udara dan bahan bakar tidak optimal sehingga berpotensi meningkatkan pembentukan deposit, emisi partikulat, dan menurunkan efisiensi pembakaran.
Selain itu, biodiesel juga bersifat higroskopis atau mudah menyerap air dari lingkungan. Kandungan air yang tinggi dapat memicu pertumbuhan bakteri dan jamur di dalam tangki penyimpanan. Mikroorganisme tersebut menghasilkan biofilm dan senyawa asam yang berisiko menyebabkan korosi, menyumbat filter, serta merusak pompa dan injektor bahan bakar. Karena itu, sistem penyimpanan tertutup, pemisah air, dan pemantauan kadar air menjadi langkah penting.
Tantangan lain muncul pada suhu rendah. Kandungan methyl ester jenuh dalam biodiesel dapat membentuk kristal yang menyumbat filter bahan bakar sehingga mesin sulit dihidupkan. Penggunaan aditif cold flow improver, sistem pemanas bahan bakar, serta penyesuaian distribusi menjadi solusi untuk mengurangi risiko tersebut.
Prof. Bambang juga menyoroti potensi oksidasi biodiesel serta kontaminasi gliserin dan logam yang dapat membentuk endapan pada komponen mesin. Oleh sebab itu, kualitas bahan bakar harus dijaga melalui penggunaan aditif, pengaturan sistem injeksi, serta penyesuaian ruang bakar agar mesin tetap bekerja optimal.
Ke depan, penerapan teknologi pemantauan berbasis sensor dan digital twin dinilai dapat mendukung sistem predictive maintenance sehingga kerusakan dapat dideteksi lebih dini. Dengan rekayasa mesin, pengendalian mutu bahan bakar, dan pemanfaatan teknologi digital, implementasi B50 diharapkan mampu mendukung kemandirian energi nasional sekaligus mewujudkan sistem energi yang lebih berkelanjutan.