Hari UMKM Internasional: Pakar UNAIR Soroti Tantangan SDM hingga Pentingnya Sinergi untuk Naik Kelas
- IG/apindojatim
Surabaya, WISATA – Setiap 28 Juni diperingati sebagai Hari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Internasional, sebuah momentum untuk mengapresiasi kontribusi jutaan pelaku usaha kecil terhadap perekonomian. Namun, bagi pakar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR), Atik Purmiyati SE MSi PhD, peringatan ini seharusnya tidak berhenti pada seremoni semata, melainkan menjadi ajang evaluasi terhadap berbagai tantangan yang masih dihadapi sektor UMKM di Indonesia.
Menurut Atik, peran UMKM dalam perekonomian nasional sangat besar. Sektor ini menyumbang sekitar 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja, serta memberikan kontribusi sekitar 15,7 persen terhadap ekspor nasional. Di Jawa Timur, kontribusi UMKM bahkan mencapai 60,8 persen terhadap PDB provinsi pada 2025, menunjukkan bahwa sektor ini menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi daerah.
Meski memiliki peran strategis, UMKM masih menghadapi sejumlah kendala mendasar. Salah satu persoalan utama adalah kualitas sumber daya manusia (SDM). Atik menilai banyak pelaku usaha yang masih mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut dan belum memanfaatkan teknologi digital secara maksimal untuk memperluas pasar.
Selain itu, inovasi produk yang belum berkembang, keterbatasan penguasaan teknologi produksi, hingga belum adanya pemisahan antara keuangan pribadi dan keuangan usaha menjadi faktor yang membuat banyak UMKM sulit berkembang.
Di sisi lain, derasnya arus produk impor juga meningkatkan persaingan. Namun, kondisi tersebut seharusnya menjadi pemicu bagi pelaku UMKM untuk terus berinovasi. Produk lokal harus memiliki identitas yang kuat, memanfaatkan bahan baku dalam negeri, dan menawarkan kualitas yang mampu bersaing. Contohnya adalah produk kriya yang mengombinasikan motif batik dengan teknik lukis sebagai bentuk inovasi yang memiliki nilai jual tinggi.
Untuk memperkuat daya saing UMKM, pemerintah perlu menjaga stabilitas pembiayaan melalui subsidi bunga kredit, perluasan penjaminan kredit, restrukturisasi pinjaman, serta pemberian insentif fiskal berupa keringanan pajak maupun subsidi energi dan transportasi.
Tak kalah penting, perguruan tinggi juga memiliki peran strategis melalui pendekatan heksa helix, yaitu kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, media, akademisi, dan pelaku UMKM. Melalui riset serta program pengabdian kepada masyarakat, kampus dapat membantu menghadirkan solusi nyata bagi perkembangan usaha kecil.