Ahmad Ali Bongkar Alasan Keluar dari NasDem, Singgung Dugaan Mahar Politik Pilpres 2024
- IG/berandaindonesiacom
Jakarta, WISATA – Keputusan Ahmad Ali meninggalkan Partai Nasdem dan bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kembali menjadi sorotan publik. Setelah resmi menjabat Ketua Harian PSI, Ahmad Ali mengungkap sejumlah alasan yang melatarbelakangi hengkangnya dirinya dari partai yang telah membesarkan karier politiknya tersebut.
Dalam berbagai kesempatan sebelumnya, Ahmad Ali menyatakan bahwa PSI merupakan “partai masa depan” yang dinilainya memiliki peluang besar untuk berkembang pada Pemilu mendatang. Ia mengaku melihat prospek politik yang lebih menjanjikan di PSI dibandingkan bertahan di NasDem. Meski demikian, Ahmad Ali tetap mengakui bahwa NasDem memiliki peran besar dalam perjalanan politiknya dan menyebut hubungan pribadinya dengan Ketua Umum NasDem, Surya Paloh, tetap terjalin baik.
Namun, perkembangan terbaru menghadirkan alasan yang lebih mendalam. Ahmad Ali mengaku tidak sepakat dengan praktik yang menurutnya berkaitan dengan mahar politik dalam dinamika politik nasional menjelang Pilpres 2024. Ia menyebut adanya permintaan mahar politik bernilai sangat besar yang dikaitkan dengan proses dukungan politik saat kontestasi pemilihan presiden berlangsung. Menurut pengakuannya, perbedaan pandangan terkait persoalan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat hubungan politiknya dengan sejumlah pihak di NasDem merenggang.
Pernyataan tersebut segera memicu perhatian publik karena selama bertahun-tahun NasDem dikenal mengusung slogan politik tanpa mahar. Bahkan pada Pilkada 2020, Ahmad Ali sendiri pernah menegaskan bahwa NasDem menjalankan proses pencalonan kepala daerah tanpa praktik mahar politik dan menjadikannya sebagai salah satu nilai utama partai.
Meski kini memilih berlabuh di PSI, Ahmad Ali menegaskan bahwa perbedaan pilihan politik tidak membuat hubungan personalnya dengan Surya Paloh terputus. Ia tetap menyebut Surya Paloh sebagai sosok yang berjasa dalam perjalanan politiknya dan menganggapnya sebagai guru politik.
Perpindahan Ahmad Ali dari NasDem ke PSI menjadi salah satu dinamika penting dalam peta politik nasional menjelang Pemilu 2029. Selain menandai perpindahan tokoh senior antarpartai, pengakuannya mengenai dugaan mahar politik ang tidak proporsiaonal dan masalah internal juga berpotensi memunculkan perdebatan baru mengenai transparansi dan tata kelola partai politik di Indonesia.