Ternyata Baru Ketahuan, Ancaman Terhadap UMKM Indonesia Bukan Serbuan Asing, Ini Penyebabnya
- Handoko
Jakarta, WISATA - Di banyak sudut kota, warteg masih buka sejak pagi. Pedagang soto tetap melayani pelanggan hingga malam. Penyewa motor di kawasan wisata tetap menunggu wisatawan datang.
Namun di balik denyut itu, banyak pelaku UMKM sebenarnya sedang bertahan dalam kondisi sulit. Mereka bergerak, tetapi tidak benar-benar tumbuh.
Ketua Umum Komite Pengusaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia Bersatu atau KOPITU, Yoyok Pitoyo, menilai ancaman terbesar UMKM Indonesia ternyata bukan sekadar serbuan asing.
Menurutnya, masalah utama justru datang dari lemahnya pembinaan jangka panjang dan minimnya perhatian terhadap UMKM riil yang tumbuh alami dari masyarakat.
“UMKM sekarang seperti mati segan hidup tak mau,” ujar Yoyok Pitoyo dalam uraian yang disampaikan kepada jaringan pelaku usaha.
UMKM Karbitan dan Politik Sesaat
Yoyok Pitoyo menilai banyak program UMKM selama ini muncul secara instan karena kepentingan tertentu. Akibatnya, banyak usaha lahir cepat tetapi tidak memiliki daya tahan.
Padahal UMKM yang dibutuhkan Indonesia adalah usaha yang mampu bertahan dalam berbagai situasi ekonomi. Bukan usaha yang hanya hidup sesaat karena proyek atau program tertentu.
Dalam praktik ekonomi modern, keberlanjutan atau sustainable business menjadi fondasi penting. Negara yang kuat justru tumbuh dari usaha kecil yang terus dibina bertahun-tahun.
Kondisi itu berbeda dengan Korea Selatan. Negara tersebut disebut mampu berkembang karena pemerintah serius menjaga ekosistem UMKM lokal.
Belajar dari Korea Selatan
Menurut Yoyok Pitoyo, lebih dari 80 persen kekuatan ekonomi Korea Selatan ditopang sektor UMKM. Pemerintah di sana membangun mental kewirausahaan sejak awal.
Pelaku usaha kecil terus dibina dari sisi manajemen, pembiayaan, hingga perlindungan pasar domestik. Pendekatan itu membuat UMKM Korea mampu bertahan menghadapi tekanan global.
Narasi pembangunan ekonomi Korea terasa seperti perjalanan panjang yang dirawat perlahan. Usaha kecil tidak dibiarkan berjalan sendiri tanpa arah.
Sebaliknya di Indonesia, pelaku UMKM riil justru mulai kehilangan ruang. Pedagang kaki lima, warteg, dan usaha tradisional dinilai semakin jauh dari perhatian kebijakan.
KOPITU melihat kondisi ini sebagai sinyal bahaya bagi masa depan ekonomi kerakyatan Indonesia.