Waspada Hantavirus di Surabaya, Dinkes Minta Warga Tetap Tenang dan Jaga Imunitas
- pixabay
Surabaya, WISATA – Pemerintah Kota Surabaya mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran hantavirus meski hingga saat ini belum ditemukan kasus positif yang terkonfirmasi di wilayah tersebut. Melalui Dinas Kesehatan (Dinkes), Pemkot Surabaya mengajak masyarakat untuk lebih waspada tanpa harus merasa panik berlebihan.
Kepala Dinkes Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, menjelaskan bahwa hantavirus sebenarnya bukan penyakit baru di dunia medis. Virus ini telah lama dikenal dan penularannya berkaitan dengan tikus, terutama melalui urine, air liur, atau kotoran hewan pengerat tersebut. Meski demikian, kasus hantavirus umumnya bersifat sporadis dan tidak menunjukkan pola penyebaran masif seperti penyakit menular lainnya.
Menurut dr. Billy, gejala awal hantavirus sering kali menyerupai flu biasa. Penderitanya dapat mengalami demam, nyeri otot, sakit kepala, hingga gangguan pernapasan ringan. Karena gejalanya mirip common cold, masyarakat diminta lebih peka terhadap kondisi kesehatan tubuh, terutama jika mengalami demam berkepanjangan setelah berada di lingkungan yang kurang bersih atau banyak tikus.
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Surabaya kini memperkuat sistem deteksi dini di sejumlah titik transportasi publik. Pemeriksaan suhu tubuh menggunakan alat pemindai elektronik mulai didorong kembali di area bandara, pelabuhan, hingga terminal transportasi darat. Langkah tersebut dianggap penting untuk memantau masyarakat yang menunjukkan gejala demam atau kondisi kesehatan tidak normal.
Selain pengawasan di pintu masuk kota, masyarakat juga diimbau menerapkan kembali pola hidup sehat. Menjaga daya tahan tubuh dinilai menjadi langkah utama untuk meminimalkan risiko penyakit menular. Warga disarankan rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, cukup beristirahat, serta memakai masker saat berada di ruang tertutup atau keramaian.
Dinkes Surabaya juga menyoroti pentingnya menjaga kebersihan lingkungan rumah. Tikus sebagai hewan pembawa virus dapat berkembang di area kumuh, lembap, dan minim sanitasi. Karena itu, masyarakat diminta rutin membersihkan rumah, menutup akses masuk tikus, serta mengelola sampah dengan baik agar tidak menjadi sarang hewan pengerat.
Di sisi lain, pemerintah daerah masih menunggu arahan teknis dari pemerintah pusat terkait mekanisme skrining hantavirus. Kementerian Kesehatan disebut sedang berkoordinasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO untuk menentukan langkah pengawasan yang tepat.