Harga Minyak Dunia Naik Akibat Konflik AS–Israel dan Iran, Pemerintah Percepat Transisi Energi Terbarukan

Ilustrasi Kilang Pertamina
Sumber :
  • IG/widododjatmiko

Jakarta, WISATA – Lonjakan harga minyak dunia yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral) menilai situasi ini sekaligus menjadi momentum untuk mempercepat transisi menuju energi baru dan terbarukan.

img_title 5 Tempat Es Segar di Madiun yang Wajib Dicoba, Kuliner Pelepas Dahaga dengan Harga Ramah di Kantong

Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, mengatakan pemerintah melihat fluktuasi harga minyak global sebagai pengingat pentingnya memperkuat ketahanan energi nasional. Ketergantungan pada satu jenis sumber energi dinilai berisiko ketika terjadi gejolak global.

“Situasi ini menjadi momentum bagi pemerintah untuk mempercepat pengembangan energi baru terbarukan,” ujar Anggia saat dihubungi di Jakarta, Senin.

img_title Implementasi Biodiesel B50 di Indonesia: Tantangan Teknis yang Harus Diatasi agar Mesin Tetap Optimal

Lonjakan harga minyak terjadi setelah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Berdasarkan laporan Sputnik, harga minyak mentah jenis Brent Crude Oil sempat menembus 118 dolar AS per barel. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak Juni 2022.

Padahal, pada awal 2026 harga minyak masih berada di kisaran yang lebih rendah. Rata-rata harga minyak Brent pada Januari tercatat sekitar 64 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di level 57,87 dolar AS per barel.

img_title Sate Ipit Pengging Boyolali, Kuliner Legendaris Sejak 1960 yang Tetap Diburu, Seporsi Mulai Rp10 Ribu Saja!

Menghadapi dinamika tersebut, pemerintah berencana mempercepat pembangunan berbagai sumber energi alternatif. Beberapa di antaranya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), serta pengembangan bioenergi.

Selain mendorong energi terbarukan, pemerintah juga terus memantau perkembangan geopolitik yang berpotensi memengaruhi pasokan energi global. Salah satu langkah antisipasi yang disiapkan adalah menyesuaikan sumber impor minyak, termasuk kemungkinan mengalihkan pasokan dari kawasan Timur Tengah ke negara lain agar tidak bergantung pada jalur distribusi yang melewati Selat Hormuz.

Meski lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya energi global, pemerintah menilai situasi ini juga dapat memberikan dampak positif bagi penerimaan negara. Indonesia masih memiliki produksi minyak domestik yang mencapai lebih dari 600 ribu barel per hari, sehingga kenaikan harga minyak dapat meningkatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak dari sektor migas.

Sementara itu, konflik di kawasan Timur Tengah terus meningkat sejak serangan udara yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Serangan terbaru bahkan dilaporkan menargetkan fasilitas penyimpanan minyak di Teheran, termasuk Depo Minyak Shahran, yang mengalami kerusakan berat. Ketegangan tersebut ikut mendorong harga minyak dunia kembali menembus angka 100 dolar AS per barel.

Halaman Selanjutnya
img_title