Rupiah Berpotensi Melemah Jika Konflik Iran–AS dan Israel Berlanjut, Ini Penjelasan Ekonom
- IG/jendelakaltara
Jakarta, WISATA – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan dalam waktu dekat, terutama jika konflik geopolitik di Timur Tengah belum mereda. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai kondisi global saat ini membuat rupiah berisiko tetap berada di level lemah bahkan berpotensi melemah lebih jauh.
Menurut Josua, ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel menciptakan ketidakpastian besar di pasar keuangan dunia. Situasi semakin rumit dengan isu pergantian kepemimpinan di Iran yang terjadi di tengah konflik.
Nama Mojtaba Khamenei, yang dikenal dekat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps, disebut sebagai salah satu figur yang menguat dalam dinamika politik Iran. Kondisi tersebut dinilai membuat investor global semakin berhati-hati.
Dalam situasi penuh ketidakpastian, investor biasanya memilih menempatkan dana mereka pada aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS. Akibatnya, permintaan terhadap dolar meningkat sementara investasi di negara berkembang cenderung berkurang. Hal ini membuat nilai tukar rupiah sulit untuk segera menguat.
Pada perdagangan Senin, rupiah bahkan sempat menyentuh level sekitar Rp16.990 per dolar AS. Tekanan tersebut terjadi seiring melonjaknya harga minyak dunia yang kembali menembus angka 100 dolar AS per barel.
Meski demikian, Bank Indonesia telah melakukan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Bank sentral sebelumnya mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen pada Februari 2026 dan memperkuat intervensi di pasar valuta asing.
Josua menilai kebijakan tersebut penting untuk meredam gejolak pasar agar pelemahan rupiah tidak terjadi secara tajam. Namun, langkah tersebut belum tentu mampu langsung membalikkan arah rupiah selama tekanan utama masih berasal dari faktor global seperti konflik geopolitik, kenaikan harga minyak, dan arus modal internasional.
Dari sisi ketahanan ekonomi, Indonesia masih memiliki cadangan devisa yang cukup kuat. Hingga akhir Februari 2026, cadangan devisa tercatat sekitar 151,9 miliar dolar AS atau setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor. Cadangan ini dapat digunakan sebagai penyangga untuk menjaga stabilitas pasar.
Meski begitu, penggunaan cadangan devisa harus tetap hati-hati. Fungsinya lebih untuk meredam gejolak pasar dan memastikan kebutuhan valuta asing tetap terpenuhi, bukan untuk mempertahankan kurs rupiah pada satu angka tertentu dalam jangka panjang.