Penerimaan Negara Masuk Zona Waspada: Jalan Berat APBN di Tengah Anjloknya Komoditas

Konferensi Pers APBN Kita Kementerian Keuangan RI Edisi November 2025.
Sumber :
  • Cuplikan Youtube Kemenkeu

Penerimaan pajak Neto turun dan PNBP tertekan akibat koreksi harga komoditas, sementara Pemerintah menjaga APBN tetap sehat lewat disiplin fiskal dan diversifikasi ekonomi.

img_title Rupiah Kembali Tertekan ke Level Rp18.000: Menguji Ketahanan Fiskal dan Dampaknya bagi Daya Beli Masyarakat

Jakarta, WISATA - Dalam laporan realisasi APBN edisi November 2025, Kementerian Keuangan tidak hanya menyampaikan prestasi berupa defisit yang terkendali dan pertumbuhan ekonomi Kuartal III yang kokoh di angka 5,04 persen. Ada satu sisi lain dari neraca negara yang menarik perhatian dan membuat Pemerintah harus menyalakan lampu kuning: penerimaan negara.

Di tengah kondisi ekonomi global yang masih rapuh, mengumpulkan uang negara bukanlah perkara sepele. Kemenkeu bahkan menyebut bahwa Indonesia sedang menapaki jalan berat untuk menjaga target penerimaan agar tidak meleset. Dua tantangan besar mengadang: penerimaan pajak Neto yang lebih rendah dibandingkan tahun lalu, serta PNBP yang terancam oleh anjloknya harga komoditas dunia, terutama batubara dan minyak.

img_title Review Rumah Atsiri Indonesia: Menghidupkan Kembali Pabrik Minyak Wangi Era Bung Karno

Pengakuan ini mencerminkan transparansi dan prinsip kehati-hatian Pemerintah dalam mengelola fiskal. Di balik angka-angka yang tampak stabil, terdapat dinamika besar yang menentukan seberapa kuat APBN mampu menahan guncangan eksternal.

Tekanan Berat dari Penerimaan Pajak Neto

img_title Program Minyak Jelantah ASN Batang: Inisiatif PKK Dorong Energi Bersih dan Ekonomi Sirkular

Salah satu peringatan yang diungkapkan Kemenkeu adalah melemahnya penerimaan pajak Neto. Meskipun pajak Bruto masih bertumbuh, jumlah pajak bersih yang masuk ke kas negara justru berada di bawah capaian tahun sebelumnya. Kondisi ini menjadi alarm serius karena menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi di beberapa sektor strategis sedang melambat.

Penyebab utama penurunan tersebut berasal dari sektor komoditas. Tahun lalu, Indonesia menikmati bonus penerimaan ketika harga batubara dan minyak berada di puncak. Pajak badan dan PPN dari sektor energi mengalir deras. Namun ketika harga global turun tajam, basis pajak pun ikut menyusut.

Faktor lain yang menekan penerimaan adalah meningkatnya pembayaran restitusi. Secara hukum, restitusi merupakan hak wajib pajak, tetapi dari sisi akuntansi, meningkatnya restitusi menunjukkan adanya penyesuaian aktivitas usaha yang menurun di sektor-sektor tertentu. Kondisi ini membuat penerimaan pajak Neto tampak lebih kecil, meskipun secara struktural masih berada dalam jalur yang dapat dijelaskan.

Halaman Selanjutnya
img_title