GEMPAR! Sektor Pertambangan Ambruk Kontraksi, BPS Tunjuk BIJI LOGAM dan Batubara Jadi Biang Keladi Resesi!

Suasana tambang batu bara dari dalam pesawat di Kabupaten Berau
Sumber :
  • antarafoto.com

BPS merilis laporan resmi Q3 2025: Sektor Pertambangan dan Penggalian alami kontraksi tajam. Penurunan biji logam di Papua Tengah dan batubara disebut sebagai penyebab utama ambruknya sektor ini.

img_title Kopi Specialty Indonesia Curi Perhatian di World of Coffee 2026 Belgia, Potensi Transaksi Tembus Rp176 Miliar

Jakarta, WISATA - Di tengah euforia pertumbuhan ekonomi nasional yang menembus 5,04% pada Triwulan III 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) menghadirkan kabar yang mengguncang publik. Dalam laporan resminya yang dirilis pada 5 November 2025, BPS menyoroti salah satu sektor paling vital dan menjadi tulang punggung ekonomi nasional: Sektor Pertambangan dan Penggalian.

Sektor yang selama ini menjadi penyumbang besar devisa negara itu ternyata mengalami kontraksi tajam. Pertumbuhan negatif ini langsung memantik kekhawatiran banyak pihak karena bisa menjadi tanda awal goyahnya fondasi ekonomi berbasis sumber daya alam.

img_title Magelang Fair 2026 Berjalan Sukses, Raup Omzet Rp3,17 Miliar, Hadirkan 54 Ribu Pengunjung

BPS secara gamblang menyebut dua komoditas yang paling berperan atas kemerosotan ini: biji logam dan batubara. Keduanya mengalami penurunan produksi signifikan hingga menekan performa sektor secara keseluruhan.

Pukulan Telak bagi Ekonomi Nasional

img_title HUT ke-46 Dekranas di Makassar, Sulsel, Lokan Krispi hingga Noken Papua Sedot Perhatian

Sektor Pertambangan dan Penggalian memiliki peran besar dalam menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Saat sektor ini terpuruk, dampaknya tidak hanya terasa pada neraca dagang, tetapi juga terhadap lapangan pekerjaan dan penerimaan negara.

Kontraksi berarti nilai output sektor ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dampaknya berlapis:

Pertama, ancaman terhadap PDB nasional. Kontraksi di sektor sebesar ini bisa menyeret laju pertumbuhan nasional ke arah melambat. Beruntung, kekuatan konsumsi rumah tangga dan investasi domestik masih cukup kuat untuk menahan dampaknya, menjaga ekonomi tetap tumbuh di kisaran 5,04%.

Kedua, ancaman terhadap devisa dan ekspor. Meski Indonesia masih mencatat surplus neraca perdagangan selama 65 bulan berturut-turut, penurunan produksi tambang berisiko menggerus volume ekspor dalam jangka menengah. Jika tren ini berlanjut, stabilitas nilai tukar Rupiah dan cadangan devisa bisa terganggu.

Papua Tengah Jadi Episentrum Guncangan

Dalam laporan tersebut, BPS menyoroti bahwa kontraksi paling dalam terjadi di subsektor Pertambangan Biji Logam, terutama di Provinsi Papua Tengah. Wilayah ini merupakan basis operasi tambang tembaga dan emas terbesar di Indonesia yang kontribusinya sangat penting bagi ekonomi nasional.

Halaman Selanjutnya
img_title