John Sellars: Etika Stoik Adalah Proses Memperbaiki Diri, Bukan Menjadi Sempurna

- Cuplikan layar
Malang, WISATA – Filsuf kontemporer John Sellars kembali menggugah kesadaran publik melalui salah satu kutipan pentingnya:
“Etika Stoik bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang terus-menerus memperbaiki diri.”
Sebagai penulis buku Lessons in Stoicism dan Stoicism and the Art of Happiness, Sellars telah menjadi salah satu tokoh yang mempopulerkan kembali ajaran filsafat Stoik ke dalam kehidupan modern yang penuh tekanan. Kutipan ini bukan hanya refleksi moral, tetapi inti dari filsafat hidup yang membumi dan membangun.
Etika Sebagai Proses, Bukan Tujuan Akhir
Dalam pandangan Stoikisme, etika bukanlah status yang dicapai satu kali dan selesai. Sebaliknya, ia adalah proses berkesinambungan untuk menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari. John Sellars menekankan bahwa tidak ada manusia yang sepenuhnya bijak atau sempurna—yang ada hanyalah orang-orang yang terus mengupayakan hidup berdasarkan nilai-nilai kebajikan.
Stoikisme mengajarkan bahwa kehidupan yang baik dibentuk melalui latihan batin: mengenali kelemahan diri, memperbaiki kesalahan, dan bertumbuh melalui refleksi. Ketika seseorang menganggap etika sebagai jalan panjang yang harus dilalui, bukan sekadar hasil akhir, maka ia akan lebih terbuka terhadap perubahan dan pertumbuhan.
Relevansi di Tengah Dunia Modern
Di era digital ini, tekanan untuk tampil sempurna sangat kuat—baik di media sosial, tempat kerja, hingga kehidupan keluarga. Banyak orang terjebak dalam ilusi bahwa harus menjadi tanpa cela untuk dihargai atau diterima. John Sellars menghadirkan alternatif:
jadilah manusia yang berupaya menjadi lebih baik, bukan manusia yang pura-pura sempurna.